lets talk about brand
Wednesday, December 27, 2006
Every one love pink
Hari minggu ketika lagi asyik jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di bandung saya cukup tertarik melihat beberapa toko pernak-pernik anak-anak wanita yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Ada tiga toko yang mengusung konsep hampir sama persis dengan dominasi warna yang juga hampir sama persis yaitu PINK.
Wah menarik nih pikir saya, kemudian iseng saya masuk ke dalam tiga toko tersebut, walaupun malu maluin juga sih, cowo item dan serem masuk dan melihat-lihat barang-barang lucu buat wanita dan tentunya penjaga tokonya beberapa kali saya perhatikan memperhatikan tindak tanduk saya ha……….ha. Kembali lagi kepengamatan saya, buset itemnya di ketiga toko ini juga mirip-mirip, yah beda beda dikitlah, ada beberapa barang yang ada di satu toko tidak ada di toko lain.
Ini nih yang bikin saya bingung setengah mati, kok udah contentnya udah mirip-mirip, contexnya juga mirip-mirip, infrastructurenya juga mirip-mirip, trus nih toko differensiasinya apa yah? Saya jujur saja (mungkin bukan target marketnya) hampir satu jam lebih di ketiga toko tersebut tidak menemukan apa yang menjadi keunikan mereka di banding dengan yang lain selain kebetulan ada barang yang tidak ada di toko lain dan ini nih yang lebih hebat lagi ternyata hampir sebagian besar yang datang ke toko A katakanlah juga dating ke Toko B dan Toko C ha………ha, kalo udah gini mah yang main Cuma selera doing, no loyalty, no perception, no strategy kecuali banyakin produknya.
Kalo udah gini sebenarnya yang rugi ya yang sering iklan, mengapa karena saking dekatnya toko secara tidak langsung mendrive orang juga untuk berkunjung ke toko pesaingnya. Apalagi tidak ada differensiasi yang benar-benar menbedakan si toko yang beriklan sama yang bukan, dalam hati, saya berujur wah ini yang tidak beriklan pinter juga strateginya, buka tempat deket-deket sama si toko yang suka beriklan, bikin mirip sisi contextnya dan tiru abis infrastructurenya, beres dan di jamin orang pasti datang juga.
Trus bagaimana yah kira-kira si toko yang sibuk membangun brandnya berstrategi? Saya pikir mereka harus membangun positioning yang tepat diantara kerumunan srigala tersebut, kemudian secara continue mereka harus sering melakukan inovasi product sehingga akan timbul persepsi dimana kalau barang bagus dan baru yah di situ. Let the people datang ke toko-toko yang lain asal terakhir tetap datang ke toko kita dan melakukan pembelian di kita dan terakhir mungkin sering-sering melakukan activasi dalam rangka membangun brand perusahaan.
rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Hari minggu ketika lagi asyik jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di bandung saya cukup tertarik melihat beberapa toko pernak-pernik anak-anak wanita yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Ada tiga toko yang mengusung konsep hampir sama persis dengan dominasi warna yang juga hampir sama persis yaitu PINK.
Wah menarik nih pikir saya, kemudian iseng saya masuk ke dalam tiga toko tersebut, walaupun malu maluin juga sih, cowo item dan serem masuk dan melihat-lihat barang-barang lucu buat wanita dan tentunya penjaga tokonya beberapa kali saya perhatikan memperhatikan tindak tanduk saya ha……….ha. Kembali lagi kepengamatan saya, buset itemnya di ketiga toko ini juga mirip-mirip, yah beda beda dikitlah, ada beberapa barang yang ada di satu toko tidak ada di toko lain.
Ini nih yang bikin saya bingung setengah mati, kok udah contentnya udah mirip-mirip, contexnya juga mirip-mirip, infrastructurenya juga mirip-mirip, trus nih toko differensiasinya apa yah? Saya jujur saja (mungkin bukan target marketnya) hampir satu jam lebih di ketiga toko tersebut tidak menemukan apa yang menjadi keunikan mereka di banding dengan yang lain selain kebetulan ada barang yang tidak ada di toko lain dan ini nih yang lebih hebat lagi ternyata hampir sebagian besar yang datang ke toko A katakanlah juga dating ke Toko B dan Toko C ha………ha, kalo udah gini mah yang main Cuma selera doing, no loyalty, no perception, no strategy kecuali banyakin produknya.
Kalo udah gini sebenarnya yang rugi ya yang sering iklan, mengapa karena saking dekatnya toko secara tidak langsung mendrive orang juga untuk berkunjung ke toko pesaingnya. Apalagi tidak ada differensiasi yang benar-benar menbedakan si toko yang beriklan sama yang bukan, dalam hati, saya berujur wah ini yang tidak beriklan pinter juga strateginya, buka tempat deket-deket sama si toko yang suka beriklan, bikin mirip sisi contextnya dan tiru abis infrastructurenya, beres dan di jamin orang pasti datang juga.
Trus bagaimana yah kira-kira si toko yang sibuk membangun brandnya berstrategi? Saya pikir mereka harus membangun positioning yang tepat diantara kerumunan srigala tersebut, kemudian secara continue mereka harus sering melakukan inovasi product sehingga akan timbul persepsi dimana kalau barang bagus dan baru yah di situ. Let the people datang ke toko-toko yang lain asal terakhir tetap datang ke toko kita dan melakukan pembelian di kita dan terakhir mungkin sering-sering melakukan activasi dalam rangka membangun brand perusahaan.
rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Tuesday, December 26, 2006
BlitzMegaplex VS the Old Lady
Pernah datang ke blitz Megaplex di Bandung? Jika belum pernah sebaiknya anda harus menyempatkan diri untuk datang, menikmati suasana dan kemudia menonton di dalam bioskopnya. Lalu kemudian anda pergi ke salah satu pesaingnya dan lakukan aktivitas yang sama dengan yang anda lakukan di Blitz. Yah kamu akan menemukan apa bedanya Blitz dan The Old Lady.
Bangku-bangku dan sofa-sofa yang sangat nyaman untuk menunggu sampai film yang kita inginkan diputar di Blitz bertebaran di lantai bawah dan lantai atasnya, begitu nyaman dan santai sambil sesekali waiter dari cafe di sana datang menawarkan beberapa menu ringan untuk dinikmati, belum cukup bagi anda penggemar musik terdapat db di mana anda dapat membuat album yang kamu sukai. Kalo di old lady, wah wah nunggu film kita bisa bisa harus ngapar-ngapar di lantai, sukur-syukur ada bangku din dong yang kosong sehingga kita bisa manfaatkan untuk duduk kalo ga mau yah pergi ke food court ato resto di sekitarnya.
Blizt sepertinya tahu benar expectasi anak-anak muda dan penonton dewasa seperti saya tentang bagaimana semestinya sebuah tempat menonton. Kombinasi hiburan dan pengalaman berkunjung ke sana sedikit banyak menciptakan sebuah apresiasi yang positif di mata target marketnya. Memang sih konsep ini bukan barang baru terutama di Jakarta, Cuma aneh juga di bandung baru mereka yang ngusung konsep ini (setidaknya yang benar benar terlihat dan dipublikasikan) padahal Old Lady sudah sangat-sangat lama bermukim di bandung.
Dalam bukunya M. Tracy dan Weiserman, The Discipline of market Leader, dijelaskan bahwa setiap pemimpin pasar harus memiliki senjata pamungkas atau fokus pasa salah satu dari tiga bisang yaitu operational execellent, customer intimacy dan product leadership. Nah gawatnya di Old Lady saya sama sekali tidak melihat mereka kuat dalam satu bidangpun. Berbicara soal harga, hampir semua film pukul rata harganya, yah paling-paling Nomat, sedangkan pesaingnya bahkan memberikan treatment harga khusus untuk film Indonesia selain hal-hal standart seperti Nomat. Customer intimacy, jauhhhhh. Saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana hal ini bisa sangat berbeda, anda bahkan bisa rapat kecil dengan exclusive di area blizt untuk menunggu film di putar sedangkan di Old Lady? Bagaiman mungkin bisa menciptakan customer intimacy, untung mereka membuka tempatnya di daerah yang agak sulit di capai sehingga memang segmen menengah ke atas yang lebih banyak datang kalau saja hal ini terjadi di tengah kota?. Product leadership? Yah kalo Old lady gitu gitu ajah dari jaman satu ampe sekarang kali yah mungkin yang paling gress Cuma bisa beli tiket mulai jam 12 an buat jam berapa ajah di hari yang sama.
Loh saya ini siapa sih ha....ha kok usil ajah, yah namanya juga brandist (julukan kami di kantor buat orang branding). Saya pikir sudah saatnya Old Lady melakukan rejuvenasi baik dari sisi content, context maupun dari sisi infrastructure. Kenyamanan ketikan film sudah diputar memang sangat penting, Cuma point of sales ketika orang menunggu, mengantri, dan hal hal lainya sebelum menonton juga sangat penting. Ketika alternatif belom ada ok lah apa boleh buat, take it or leave it, Cuma ketika pesaing muncul ga bisa gitu lagi, innovation or die.
Dulu saya dan beberapa teman saya adalah pelanggan setia old lady, sekarang saya pelanggan setianya blitzMegaplex. Alasannya sederhana di Blitz saya bisa bersantai di sofa, ngobrol beberapa hal dan menikmati secangkir kopi yang langsung ditawarkan oleh seorang pelayan ketika menunggu film yang saya nantikan di putar.
Pertanyaannya apakah kelak jika Old Lady berubaha saya mau kembali kepangkuan kasihnya? Ya, asal mereka bisa mengerti keinginan hati saya dan para movie maniac lainnya. Instilah mereka bisa memahami Customer Insight target marketnya.
rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Pernah datang ke blitz Megaplex di Bandung? Jika belum pernah sebaiknya anda harus menyempatkan diri untuk datang, menikmati suasana dan kemudia menonton di dalam bioskopnya. Lalu kemudian anda pergi ke salah satu pesaingnya dan lakukan aktivitas yang sama dengan yang anda lakukan di Blitz. Yah kamu akan menemukan apa bedanya Blitz dan The Old Lady.
Bangku-bangku dan sofa-sofa yang sangat nyaman untuk menunggu sampai film yang kita inginkan diputar di Blitz bertebaran di lantai bawah dan lantai atasnya, begitu nyaman dan santai sambil sesekali waiter dari cafe di sana datang menawarkan beberapa menu ringan untuk dinikmati, belum cukup bagi anda penggemar musik terdapat db di mana anda dapat membuat album yang kamu sukai. Kalo di old lady, wah wah nunggu film kita bisa bisa harus ngapar-ngapar di lantai, sukur-syukur ada bangku din dong yang kosong sehingga kita bisa manfaatkan untuk duduk kalo ga mau yah pergi ke food court ato resto di sekitarnya.
Blizt sepertinya tahu benar expectasi anak-anak muda dan penonton dewasa seperti saya tentang bagaimana semestinya sebuah tempat menonton. Kombinasi hiburan dan pengalaman berkunjung ke sana sedikit banyak menciptakan sebuah apresiasi yang positif di mata target marketnya. Memang sih konsep ini bukan barang baru terutama di Jakarta, Cuma aneh juga di bandung baru mereka yang ngusung konsep ini (setidaknya yang benar benar terlihat dan dipublikasikan) padahal Old Lady sudah sangat-sangat lama bermukim di bandung.
Dalam bukunya M. Tracy dan Weiserman, The Discipline of market Leader, dijelaskan bahwa setiap pemimpin pasar harus memiliki senjata pamungkas atau fokus pasa salah satu dari tiga bisang yaitu operational execellent, customer intimacy dan product leadership. Nah gawatnya di Old Lady saya sama sekali tidak melihat mereka kuat dalam satu bidangpun. Berbicara soal harga, hampir semua film pukul rata harganya, yah paling-paling Nomat, sedangkan pesaingnya bahkan memberikan treatment harga khusus untuk film Indonesia selain hal-hal standart seperti Nomat. Customer intimacy, jauhhhhh. Saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana hal ini bisa sangat berbeda, anda bahkan bisa rapat kecil dengan exclusive di area blizt untuk menunggu film di putar sedangkan di Old Lady? Bagaiman mungkin bisa menciptakan customer intimacy, untung mereka membuka tempatnya di daerah yang agak sulit di capai sehingga memang segmen menengah ke atas yang lebih banyak datang kalau saja hal ini terjadi di tengah kota?. Product leadership? Yah kalo Old lady gitu gitu ajah dari jaman satu ampe sekarang kali yah mungkin yang paling gress Cuma bisa beli tiket mulai jam 12 an buat jam berapa ajah di hari yang sama.
Loh saya ini siapa sih ha....ha kok usil ajah, yah namanya juga brandist (julukan kami di kantor buat orang branding). Saya pikir sudah saatnya Old Lady melakukan rejuvenasi baik dari sisi content, context maupun dari sisi infrastructure. Kenyamanan ketikan film sudah diputar memang sangat penting, Cuma point of sales ketika orang menunggu, mengantri, dan hal hal lainya sebelum menonton juga sangat penting. Ketika alternatif belom ada ok lah apa boleh buat, take it or leave it, Cuma ketika pesaing muncul ga bisa gitu lagi, innovation or die.
Dulu saya dan beberapa teman saya adalah pelanggan setia old lady, sekarang saya pelanggan setianya blitzMegaplex. Alasannya sederhana di Blitz saya bisa bersantai di sofa, ngobrol beberapa hal dan menikmati secangkir kopi yang langsung ditawarkan oleh seorang pelayan ketika menunggu film yang saya nantikan di putar.
Pertanyaannya apakah kelak jika Old Lady berubaha saya mau kembali kepangkuan kasihnya? Ya, asal mereka bisa mengerti keinginan hati saya dan para movie maniac lainnya. Instilah mereka bisa memahami Customer Insight target marketnya.
rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Thursday, December 21, 2006
Hantu bergentayangan di Mcdonald
Pernah merasa didatangi hantu? mungkin sebagian dari anda ada yang menjawab iya. Ya, hantu memang makhluk yang kita yakini keberadaannya namun kasat mata. Biasanya kedatangannya ditandai dengan bulu kuduk yang berdiri dan ada hawa yang dingin atau hangat menyelimuti kita, kata pak Leo. Nah saya sendiri jujur belom pernah sih, cuma yang saya pernah alami dan rasakan kehadirannya ketika saya masuk ke gerai Mcdonald ( saya merasakan ini tidak hanya di bandung aja lo, tapi juga di semua gerai Mcdonald di luar bandung ).
Jadi ceritanya gini,saya masuk bersama teman teman saya yang rakus rakus dan pengen langsung "menggerayangi" dada dan paha si Mcdonald, ketika pintu depan itu saya buka...seeet, hawa dingin dan khas mulai membuat bulu kuduk saya berdiri sesaat merasakan dingin yang menyelimuti, nah disinilah saya mulai merasakan kehadiran hantu2 tersebut. Fenomena ini ditandai dengan perasaan dalam diri saya bahwa yes! saya sekarang jadi modern (meskipun saya ke sini make angkot), lalu weiss! Amerika bangeeet (meskipun bahasa inggris saya masih yang "your brother work where?") haaiah...
Itu pengalaman saya "diganggu" hantu di Mcdonald, tapi anehnya justru keberadaan hantu tersebut membuat saya ketagihan sama si om Mcdonald ini yang membuat saya jadi sering melakukan repeat order ke si om. Nah, lalu saya berpikir,rasanya ini bukan masalah paranormal deh, ini masalah strategi marketing kayanya...jadi saya ga jadi menelpon pak leo, yang saya telpon adalah my big brother namanya rex ( bukan nama sebenarnya ), saya tanya dia,lalu tiba tiba saya tercengang dengan jawabannya...ternyata yang selama ini saya anggap hantu itu adalah value.
Value adalah nilai yang dimiliki oleh sebuah merek, dalam hal ini Mcdonald. Harga ayam di Mcd tentu lebih mahal dibanding ayam di pinggir jalan yang hanya 2 rebuan, padahal hampir sama rasa dan bentuk fisiknya, cuma yang membedakan adalah ketika anda merasakan gigitan ayam pertama kress! mmmmh anda sudah bukan lagi si ujang melainkan si Steve, anda bukan lagi si yudi melainkan si george...nah itulah value, sesuatu yang tidak anda sentuh tapi anda rasakan kehadirannya, seperti hantu tadi. Huh, akhirnya saya tutup telpon itu dan mulai berpikir untuk menemui hantu hantu kesayangan saya di rumah om Mcdonald.
pras_
Art Director
CreasionBrand
Pernah merasa didatangi hantu? mungkin sebagian dari anda ada yang menjawab iya. Ya, hantu memang makhluk yang kita yakini keberadaannya namun kasat mata. Biasanya kedatangannya ditandai dengan bulu kuduk yang berdiri dan ada hawa yang dingin atau hangat menyelimuti kita, kata pak Leo. Nah saya sendiri jujur belom pernah sih, cuma yang saya pernah alami dan rasakan kehadirannya ketika saya masuk ke gerai Mcdonald ( saya merasakan ini tidak hanya di bandung aja lo, tapi juga di semua gerai Mcdonald di luar bandung ).
Jadi ceritanya gini,saya masuk bersama teman teman saya yang rakus rakus dan pengen langsung "menggerayangi" dada dan paha si Mcdonald, ketika pintu depan itu saya buka...seeet, hawa dingin dan khas mulai membuat bulu kuduk saya berdiri sesaat merasakan dingin yang menyelimuti, nah disinilah saya mulai merasakan kehadiran hantu2 tersebut. Fenomena ini ditandai dengan perasaan dalam diri saya bahwa yes! saya sekarang jadi modern (meskipun saya ke sini make angkot), lalu weiss! Amerika bangeeet (meskipun bahasa inggris saya masih yang "your brother work where?") haaiah...
Itu pengalaman saya "diganggu" hantu di Mcdonald, tapi anehnya justru keberadaan hantu tersebut membuat saya ketagihan sama si om Mcdonald ini yang membuat saya jadi sering melakukan repeat order ke si om. Nah, lalu saya berpikir,rasanya ini bukan masalah paranormal deh, ini masalah strategi marketing kayanya...jadi saya ga jadi menelpon pak leo, yang saya telpon adalah my big brother namanya rex ( bukan nama sebenarnya ), saya tanya dia,lalu tiba tiba saya tercengang dengan jawabannya...ternyata yang selama ini saya anggap hantu itu adalah value.
Value adalah nilai yang dimiliki oleh sebuah merek, dalam hal ini Mcdonald. Harga ayam di Mcd tentu lebih mahal dibanding ayam di pinggir jalan yang hanya 2 rebuan, padahal hampir sama rasa dan bentuk fisiknya, cuma yang membedakan adalah ketika anda merasakan gigitan ayam pertama kress! mmmmh anda sudah bukan lagi si ujang melainkan si Steve, anda bukan lagi si yudi melainkan si george...nah itulah value, sesuatu yang tidak anda sentuh tapi anda rasakan kehadirannya, seperti hantu tadi. Huh, akhirnya saya tutup telpon itu dan mulai berpikir untuk menemui hantu hantu kesayangan saya di rumah om Mcdonald.
pras_
Art Director
CreasionBrand
Wednesday, December 20, 2006
THE BRANDWASH
Satu hal yang saya inget dari branding adalah gimana caranya menanamkan suatu brand ke dalam otak konsumen. Caranya? Macem-macem pastinya, but sure thing it’s related to each other…misalnya kemasan produk ok tapi publikasi nol is useless, tapi kalo publikasi udah pol-pol an tapi produk tidak sesuai dengan yg dipublikasikan ya sama juga boong =p. jadi faktor-faktor yg ada emang harus nge-back up satu sama lain. It’s quite simple really, bahkan bisa pake analogi our miserable yet cheerful daily life hehe. Nah anggap this brand-wash (um,brainwash?;D) process similar with our very own puberty phase where we desperately want this guy/girl to know us. Anggaplah posisi sebuah perusahaan branding itu sendiri sebagai ‘mak comblangnya’.
Mak comblanglah yg cari tau apa yg ‘target’ suka, dari hobi, musik, kebiasaan, makanan favorit, jumlah jempolnya (lho?!) dll dst dkk. Nah kalau udah gitu ‘klien’ biasanya langsung siap-siap sok cari perhatian..(hayo ngaku,..zaman SMP kayaknya semua orang ngalamin deh hehehe ;D). Sekarang setelah semua info dah ada di tangan, gimana caranya our client’s packaging bisa menarik –at least sedikit- perhatian di awal…kalo mo lebih dahsyat ya sejalan dengan publikasi. Analoginya, kalo dari info yg didapet nih misalnya cewek ini suka ama cowo pinter yg berwawasan luas, ya try your best to make her believe it. Sebarin ke temen2nya gimana klien lo hobi banget ke perpustakaan, sering menang lomba debat(menang nawar di pasar juga boleh masuk itungan ;p hehe), IPK di atas 3, kemana-mana bawa buku, dll. Tapi ya itu, sekali lagi publikasi harus sesuai ama ‘produk’. Orang susah percaya dong kalo dibilangin nih cowo katanya smart tapi ditanya topik berita yg lagi rame cuma mesem2 aja..
Intinya find your target, get all kind information you can get about them (what they like & dislike) then ..voila! it’s your turn to move now. Data yg ada diolah, diproses sampai keluar output berbagai alternative cara dalam mengakomodasi poin poin (fakta) yg udah ada. Istilahnya sekarang gimana cara PDKT yg efektif? Gimana caranya supaya kalau –misalnya- cowok itu bareng temen2nya lagi ngobrolin siapa cewek yg paling ok & ..YOUR CLIENT’S NAME is the first thing that crosses his mind?
Kira-kira itulah esensi dari branding yang saya dapet, ‘How to make one brand become the first thing that crosses people’s head’ . Namun untuk ‘diinget’ memang ga selalu terbatas pada usaha yg ‘bagus-bagus’aja sih,..kadang ada juga yg nggak beruntung diinget karena imej, kemasan, penyampaiannya (dalam hal ini, iklan) justru tidak sempurna atau malah berlebihan. =p Contoh sederhana, sadar ga kalo kita benci pada satu lagu, justru lagu itu akan ‘bersemayam’ di otak kita & pada satu kesempatan, ga sadar justru kita malah bersenandung lagu tersebut??.
Trik psikologis ini juga berpengaruh lho. Suatu brand bisa jadi akan dikenal karena implikasi kontradiksi (halah) tersebut. Mungkin kita tahu iklan-iklan dengan metode pengulangan berkali-kali dalam satu kali slot, yg kalo dipikir2 sangat annoying tapi justru kita jadi terus inget (minimal produknya) bahkan tagline dari iklan tersebut jadi idiom sehari-hari. (berapa lapis?..ratusan!!! =D) Tapi siapa sih yg mau diinget karena ketidaksempurnaannya? well disitulah tugas branding company untuk selalu mengkomunikasikan brand sebagaimana mestinya…u can call it a full time matchmaker! =D
Atri
AnakMagangnya
CreasionBrand
Satu hal yang saya inget dari branding adalah gimana caranya menanamkan suatu brand ke dalam otak konsumen. Caranya? Macem-macem pastinya, but sure thing it’s related to each other…misalnya kemasan produk ok tapi publikasi nol is useless, tapi kalo publikasi udah pol-pol an tapi produk tidak sesuai dengan yg dipublikasikan ya sama juga boong =p. jadi faktor-faktor yg ada emang harus nge-back up satu sama lain. It’s quite simple really, bahkan bisa pake analogi our miserable yet cheerful daily life hehe. Nah anggap this brand-wash (um,brainwash?;D) process similar with our very own puberty phase where we desperately want this guy/girl to know us. Anggaplah posisi sebuah perusahaan branding itu sendiri sebagai ‘mak comblangnya’.
Mak comblanglah yg cari tau apa yg ‘target’ suka, dari hobi, musik, kebiasaan, makanan favorit, jumlah jempolnya (lho?!) dll dst dkk. Nah kalau udah gitu ‘klien’ biasanya langsung siap-siap sok cari perhatian..(hayo ngaku,..zaman SMP kayaknya semua orang ngalamin deh hehehe ;D). Sekarang setelah semua info dah ada di tangan, gimana caranya our client’s packaging bisa menarik –at least sedikit- perhatian di awal…kalo mo lebih dahsyat ya sejalan dengan publikasi. Analoginya, kalo dari info yg didapet nih misalnya cewek ini suka ama cowo pinter yg berwawasan luas, ya try your best to make her believe it. Sebarin ke temen2nya gimana klien lo hobi banget ke perpustakaan, sering menang lomba debat(menang nawar di pasar juga boleh masuk itungan ;p hehe), IPK di atas 3, kemana-mana bawa buku, dll. Tapi ya itu, sekali lagi publikasi harus sesuai ama ‘produk’. Orang susah percaya dong kalo dibilangin nih cowo katanya smart tapi ditanya topik berita yg lagi rame cuma mesem2 aja..
Intinya find your target, get all kind information you can get about them (what they like & dislike) then ..voila! it’s your turn to move now. Data yg ada diolah, diproses sampai keluar output berbagai alternative cara dalam mengakomodasi poin poin (fakta) yg udah ada. Istilahnya sekarang gimana cara PDKT yg efektif? Gimana caranya supaya kalau –misalnya- cowok itu bareng temen2nya lagi ngobrolin siapa cewek yg paling ok & ..YOUR CLIENT’S NAME is the first thing that crosses his mind?
Kira-kira itulah esensi dari branding yang saya dapet, ‘How to make one brand become the first thing that crosses people’s head’ . Namun untuk ‘diinget’ memang ga selalu terbatas pada usaha yg ‘bagus-bagus’aja sih,..kadang ada juga yg nggak beruntung diinget karena imej, kemasan, penyampaiannya (dalam hal ini, iklan) justru tidak sempurna atau malah berlebihan. =p Contoh sederhana, sadar ga kalo kita benci pada satu lagu, justru lagu itu akan ‘bersemayam’ di otak kita & pada satu kesempatan, ga sadar justru kita malah bersenandung lagu tersebut??.
Trik psikologis ini juga berpengaruh lho. Suatu brand bisa jadi akan dikenal karena implikasi kontradiksi (halah) tersebut. Mungkin kita tahu iklan-iklan dengan metode pengulangan berkali-kali dalam satu kali slot, yg kalo dipikir2 sangat annoying tapi justru kita jadi terus inget (minimal produknya) bahkan tagline dari iklan tersebut jadi idiom sehari-hari. (berapa lapis?..ratusan!!! =D) Tapi siapa sih yg mau diinget karena ketidaksempurnaannya? well disitulah tugas branding company untuk selalu mengkomunikasikan brand sebagaimana mestinya…u can call it a full time matchmaker! =D
Atri
AnakMagangnya
CreasionBrand
Sunday, December 17, 2006
if you don't have a dream, how do you know when your brand will be big
Suatu hari ada seorang sahabat yang bertanya kepada saya memang perlu yah melakukan branding? Paman gua ga ngerti yang namanya branding ajah bisa jadi “tajir” dan bisnisnya makin maju ajah tuh. Lagi pula branding itu khan menghabiskan dana ajah yang efeknya kalopun ada jangka panjang.
Hmmm dari dulu sampai hari ini, ga itu teman atapun pemilik perusahaan kalau sudah membicarakan topik yang satu ini kebanyakan selalu ajah berpendapat seperti itu, tapi memang kadang gua sendiri ga bisa menutup mata emang mereka maju tanpa perlu teori branding yang ini ataupun yang itu sehingga memang harus dicari cara yang tepat untuk mengatakan bahwa itu dulu, ketika persaingan tidak seketat sekarang, teman!
Oke lah, kemudian gua bertanya kepada sahabat gua tersebut, lo kalo mobil sukanya apa? “Honda.” Kenapa? “Soalnya gaya anak mudah banget deh”. Kalo ngerokok rokonya apa? “A mild.” Kenapa? “Soalnya rendah tar nya.” Nah sekarang kalo lo dikasih rezeki yang banyak sama Tuhan mau pergi kemana? “Singapura.” Kenapa? “Soalnya gua bisa belanja yang banyak di sana karena emang terkenal dengan orchad roadnya.” Trus semua barang dan tempat yang elo sebut itu elo tau dari mana? Ada yang dari iklan TV, ada yang dari teman dan ada juga yang dari baca majalah dan sebagainya. Hmmmmm trus itu semua, majalah, iklan TV dan omongan orang nurut lo proses apa? Branding. Sambil menghela nafas gua memperhatikan tatapan matanya yang menunjukkan muka sok lugu dan kemudian tersenyum tersebut.
Kemudian pembicaraan mengalir dengan lebih santai karena dia menjawab sendiri pertanyaannya yang diajukan pada awal pembicaraan. Sesaat setelah berdiam diri kemudian teman saya tersebut kembali bertanya, emang gimana sih nurut elo proses branding yang baik itu rex? Maksud gua kalo gua punya produk gimana biar gua bisa ngebangun brand gua menjadi besar dan kuat? Wah-wah, gua jadi teringat banyak sekali teman, kolega dan klien yang selalu mempertanyakan hal ini kepada gua.
Sejujurnya menjawab pertanyaan tersebut sama beratnya dengan meminum slimming tea buat gua, pahit, ga enak tapi memiliki kepuasan tertentu bagi diri gua sendiri. Ga nyambung yah, sedikit ngelenceng ajah sih itu namanya Spot Ad he….he. Oke back to the topic, gua kemudian mengajukan sebuah pertanyaan untuk sahabat gua tersebut, kira-kira kalo elo bisnis maunya bisnis apa? “Roti deh, jawabnya”. Oke sekarang, elo bikin bisnis roti, kelak cita-cita elo apa terhadap bisnis roti lo? “yah gua mau bisnis roti gua bisa segede J.CO ato Bread Talk setidaknya”, nah itu dia unsur pertama kalo elo ingin membangun sebuah brand yang besar yang dalam bahasa pemasarannya biasa di sebut brand equity elo harus punya mimpi atau bahasa kerennya Vision. Mimpi elo segede J.Co or Bread Talk.
Kenapa? Ini gua kutipin sebuah kata-kata yang bagus “if you don't have a dream, how do you know when your brand will be big”? Mimpi elo akan mendorong elo untuk terus berusaha mencapainya dengan segala daya upaya elo tentunya. Gua udah banyak banget nemuin orang-orang yang bisnis sekedar buang-buang duit, udah ga keitung kali yang gua prediksi bakal kolaps dan jadi kenyataan. Why? Simple, itu orang-orang ga punya mimpi, taunya cuma yang penting dapet duit secepatnya sehingga usaha-usaha yang mendeliver mereka untuk berkembang menjadi besar itu ga ada. “Pengen dapat duit dan kaya khan juga mimpi rex?” bener banget tapi ada satu hal lagi yang penting sering dilupakan dalam menterjemahkan dari memimpikan sesuatu yaitu, ukuran.
Kalo mimpi, ngukur dong, kalo pengen jadi petinju kelas berat, mikir dong kira-kira badan lo bakal segede Tyson ato Lenox Lewis kaga, kalo kaga ya disesuaikan dong, ambil kelas bulu terbang misalnya sehingga mimpi elo untuk jadi juara dunia menjadi masuk akal dan usaha untuk ke sana punya kemungkinan berhasil, gitu fren. Intinya mimpi basah “banyak duit” kenapa engga tapi yah itu diukur. Nah faktor ukuran ini nih yang suka dilupain sama orang-orang yang mulai usaha sehingga yah semua usahanya menjadi percuma disamping tentunya banyak lagi faktor-faktor penyebab lainnya. Ntar kita bahas lain kali.
Gimana jelas nga, intinya faktor pertama sebuah merek atau perusahaan berhasil atau tidak yah ada atau tidaknya impian yang mendeliver semua sumber daya untuk terus meraihnya. Simple kan jack, paman lo jadi besar pasti karena dia punya mimpi yang dari tadi kita bahas. Cukup ga mimpi doang, yah? kaga, karena itulah mengetahui dan menjalankan proses branding itu penting. “dasar konsultan lo, bisaan ajah”. Haa………ha, kamipun berpisah karena keterbatasan waktu yang kami miliki. Tentunya kelak kami akan berbincang-bincang lagi untuk melanjutkan pembahasan yang sangat menarik mengenai branding ini.
rex_
strategic planing director
creasionbrand
Suatu hari ada seorang sahabat yang bertanya kepada saya memang perlu yah melakukan branding? Paman gua ga ngerti yang namanya branding ajah bisa jadi “tajir” dan bisnisnya makin maju ajah tuh. Lagi pula branding itu khan menghabiskan dana ajah yang efeknya kalopun ada jangka panjang.
Hmmm dari dulu sampai hari ini, ga itu teman atapun pemilik perusahaan kalau sudah membicarakan topik yang satu ini kebanyakan selalu ajah berpendapat seperti itu, tapi memang kadang gua sendiri ga bisa menutup mata emang mereka maju tanpa perlu teori branding yang ini ataupun yang itu sehingga memang harus dicari cara yang tepat untuk mengatakan bahwa itu dulu, ketika persaingan tidak seketat sekarang, teman!
Oke lah, kemudian gua bertanya kepada sahabat gua tersebut, lo kalo mobil sukanya apa? “Honda.” Kenapa? “Soalnya gaya anak mudah banget deh”. Kalo ngerokok rokonya apa? “A mild.” Kenapa? “Soalnya rendah tar nya.” Nah sekarang kalo lo dikasih rezeki yang banyak sama Tuhan mau pergi kemana? “Singapura.” Kenapa? “Soalnya gua bisa belanja yang banyak di sana karena emang terkenal dengan orchad roadnya.” Trus semua barang dan tempat yang elo sebut itu elo tau dari mana? Ada yang dari iklan TV, ada yang dari teman dan ada juga yang dari baca majalah dan sebagainya. Hmmmmm trus itu semua, majalah, iklan TV dan omongan orang nurut lo proses apa? Branding. Sambil menghela nafas gua memperhatikan tatapan matanya yang menunjukkan muka sok lugu dan kemudian tersenyum tersebut.
Kemudian pembicaraan mengalir dengan lebih santai karena dia menjawab sendiri pertanyaannya yang diajukan pada awal pembicaraan. Sesaat setelah berdiam diri kemudian teman saya tersebut kembali bertanya, emang gimana sih nurut elo proses branding yang baik itu rex? Maksud gua kalo gua punya produk gimana biar gua bisa ngebangun brand gua menjadi besar dan kuat? Wah-wah, gua jadi teringat banyak sekali teman, kolega dan klien yang selalu mempertanyakan hal ini kepada gua.
Sejujurnya menjawab pertanyaan tersebut sama beratnya dengan meminum slimming tea buat gua, pahit, ga enak tapi memiliki kepuasan tertentu bagi diri gua sendiri. Ga nyambung yah, sedikit ngelenceng ajah sih itu namanya Spot Ad he….he. Oke back to the topic, gua kemudian mengajukan sebuah pertanyaan untuk sahabat gua tersebut, kira-kira kalo elo bisnis maunya bisnis apa? “Roti deh, jawabnya”. Oke sekarang, elo bikin bisnis roti, kelak cita-cita elo apa terhadap bisnis roti lo? “yah gua mau bisnis roti gua bisa segede J.CO ato Bread Talk setidaknya”, nah itu dia unsur pertama kalo elo ingin membangun sebuah brand yang besar yang dalam bahasa pemasarannya biasa di sebut brand equity elo harus punya mimpi atau bahasa kerennya Vision. Mimpi elo segede J.Co or Bread Talk.
Kenapa? Ini gua kutipin sebuah kata-kata yang bagus “if you don't have a dream, how do you know when your brand will be big”? Mimpi elo akan mendorong elo untuk terus berusaha mencapainya dengan segala daya upaya elo tentunya. Gua udah banyak banget nemuin orang-orang yang bisnis sekedar buang-buang duit, udah ga keitung kali yang gua prediksi bakal kolaps dan jadi kenyataan. Why? Simple, itu orang-orang ga punya mimpi, taunya cuma yang penting dapet duit secepatnya sehingga usaha-usaha yang mendeliver mereka untuk berkembang menjadi besar itu ga ada. “Pengen dapat duit dan kaya khan juga mimpi rex?” bener banget tapi ada satu hal lagi yang penting sering dilupakan dalam menterjemahkan dari memimpikan sesuatu yaitu, ukuran.
Kalo mimpi, ngukur dong, kalo pengen jadi petinju kelas berat, mikir dong kira-kira badan lo bakal segede Tyson ato Lenox Lewis kaga, kalo kaga ya disesuaikan dong, ambil kelas bulu terbang misalnya sehingga mimpi elo untuk jadi juara dunia menjadi masuk akal dan usaha untuk ke sana punya kemungkinan berhasil, gitu fren. Intinya mimpi basah “banyak duit” kenapa engga tapi yah itu diukur. Nah faktor ukuran ini nih yang suka dilupain sama orang-orang yang mulai usaha sehingga yah semua usahanya menjadi percuma disamping tentunya banyak lagi faktor-faktor penyebab lainnya. Ntar kita bahas lain kali.
Gimana jelas nga, intinya faktor pertama sebuah merek atau perusahaan berhasil atau tidak yah ada atau tidaknya impian yang mendeliver semua sumber daya untuk terus meraihnya. Simple kan jack, paman lo jadi besar pasti karena dia punya mimpi yang dari tadi kita bahas. Cukup ga mimpi doang, yah? kaga, karena itulah mengetahui dan menjalankan proses branding itu penting. “dasar konsultan lo, bisaan ajah”. Haa………ha, kamipun berpisah karena keterbatasan waktu yang kami miliki. Tentunya kelak kami akan berbincang-bincang lagi untuk melanjutkan pembahasan yang sangat menarik mengenai branding ini.
rex_
strategic planing director
creasionbrand
Thursday, December 14, 2006
If u can sell to a woman, u can sell to anyone!
Satu waktu saya pernah nonton Oprah Show yang ngebahas Krispy Kreme, the most wanted doughnut in USA (&beberapa bagian bumi lain) & dalam acara itu terungkap bahwa Krispy Kreme tidak mengeluarkan sesen pun untuk publikasi coz’ mereka bener bener mengutamakan the buzz mouth method alias dari mulut ke mulut! Setelah metodenya sukses, brand Krispy Kreme sudah jadi ‘jaminan mutu’ & melekat sesemikian rupa pada konsumen di sana. Yang mungkin sedikit disayangkan bahwa mereka telat melangkah di Indonesia, sehingga efek publisitas untuk kategori produk ini sudah didulang oleh JCO habis habisan.
Nasib serupa di kancah lokal juga terjadi pada brownies kukus Amanda produk asli Bandung Entah dari mana datangnya tiba-tiba terjadi ledakan publisitas terhadap produk yang satu ini, hampir setiap orang membicarakannya, baik itu kelezatan produknya, antriannya yang sangat panjang sampai pembatasan jumlah pembelian beberapa kotak saja. Semua orang membicarakannya and they made a lot of money. Istilahnya kalau di infotainment, tambah sering diomongin, tambah naik pasarannya. Jika brand sudah sedemikian melekatnya, maka dampak ke marketing akan terjadi dengan sendirinya.
Oya kalau membahas ‘buzz mouth’ biasanya yang senantiasa menjadi ‘marketer-marketer gratisan’ sudah pasti wanita-wanita. Tidak ada yang lebih efektif dalam memasarkan suatu produk selain memanfaatkan sifat khas wanita,..bergosip! selain itu wanita lebih cenderung konsumtif dan suka sekali membeli barang tidak berdasarkan fungsionalnya.. (sad, but it’s true ;D). Jika kita sekali-kali ’meninjau’ kegiatan sosialisasi yg mungkin hanya ada di Indonesia) antar ibu-ibu yang dinamakan Arisan, maka disitulah unjuk gigi para marketer handal kita, plus demo aksi kemampuan tawar menawar yang menakjubkan =D.
Hampir semua komoditi & ‘perlengkapan perang’ ibu rumah tangga dari baju, kosmetik, peralatan rumah tangga, makanan, obat langsing, perlengkapan anak,..dll ada..u named it deh!. Jangankan tingkat ibu-ibu, saya saja kalau berkumpul dengan temen2 cewek & saling bertukar info tentang produk apapun dari dvd sampai kosmetik pasti rekomendasi dari temen2 perlahan tapi pasti merasuk ke benak saya!
Kesimpulannya if u can sell to a woman, u can sell to anyone!
Atri_
Anak Magangnya
CreasionBrand
Satu waktu saya pernah nonton Oprah Show yang ngebahas Krispy Kreme, the most wanted doughnut in USA (&beberapa bagian bumi lain) & dalam acara itu terungkap bahwa Krispy Kreme tidak mengeluarkan sesen pun untuk publikasi coz’ mereka bener bener mengutamakan the buzz mouth method alias dari mulut ke mulut! Setelah metodenya sukses, brand Krispy Kreme sudah jadi ‘jaminan mutu’ & melekat sesemikian rupa pada konsumen di sana. Yang mungkin sedikit disayangkan bahwa mereka telat melangkah di Indonesia, sehingga efek publisitas untuk kategori produk ini sudah didulang oleh JCO habis habisan.
Nasib serupa di kancah lokal juga terjadi pada brownies kukus Amanda produk asli Bandung Entah dari mana datangnya tiba-tiba terjadi ledakan publisitas terhadap produk yang satu ini, hampir setiap orang membicarakannya, baik itu kelezatan produknya, antriannya yang sangat panjang sampai pembatasan jumlah pembelian beberapa kotak saja. Semua orang membicarakannya and they made a lot of money. Istilahnya kalau di infotainment, tambah sering diomongin, tambah naik pasarannya. Jika brand sudah sedemikian melekatnya, maka dampak ke marketing akan terjadi dengan sendirinya.
Oya kalau membahas ‘buzz mouth’ biasanya yang senantiasa menjadi ‘marketer-marketer gratisan’ sudah pasti wanita-wanita. Tidak ada yang lebih efektif dalam memasarkan suatu produk selain memanfaatkan sifat khas wanita,..bergosip! selain itu wanita lebih cenderung konsumtif dan suka sekali membeli barang tidak berdasarkan fungsionalnya.. (sad, but it’s true ;D). Jika kita sekali-kali ’meninjau’ kegiatan sosialisasi yg mungkin hanya ada di Indonesia) antar ibu-ibu yang dinamakan Arisan, maka disitulah unjuk gigi para marketer handal kita, plus demo aksi kemampuan tawar menawar yang menakjubkan =D.
Hampir semua komoditi & ‘perlengkapan perang’ ibu rumah tangga dari baju, kosmetik, peralatan rumah tangga, makanan, obat langsing, perlengkapan anak,..dll ada..u named it deh!. Jangankan tingkat ibu-ibu, saya saja kalau berkumpul dengan temen2 cewek & saling bertukar info tentang produk apapun dari dvd sampai kosmetik pasti rekomendasi dari temen2 perlahan tapi pasti merasuk ke benak saya!
Kesimpulannya if u can sell to a woman, u can sell to anyone!
Atri_
Anak Magangnya
CreasionBrand
Ngobrol Singkat soal Brand
Brand, apa sih sebenarnya brand itu? bertahun-tahun berbicara dengan banyak orang baik itu klien, calon karyawan, mahasiswa ataupu akedemisi sekalipun hampir semua jawaban yang saya dapatkan bias. dalam artian hampir tidak ada satupun yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti apa itu sebenarnya brand. tentu semua jawaban yang saya dapatkan setelah didiskusikan memiliki argumen sendiri dan tentu tidak bisa dikatakan salah karena demiakianlah pengertian yang melekat selama ini di benak masing-masing orang dan juga kadang dalam prateknya hal tersebut berhasil.
Brand sebagai sebuah bahasa rasanya bukan lagi hal yang asing di masyarakat umum rasanya, tukang nasi goreng (kribo), tukang perkedel (perkedel bondon) dan bahkan tukang baso (bu lela) bahkan sudah mengerti dengan baik pentingnya sebuah brand sehingga mereka bisa membangun perusahaan demikian besar. lantas mengapa masih banyak sekali orang yang tidak dapat menjelaskan makna dari brand? it's easy to think but hard to say, demikianlah salah satu guru saya pernah memberi tahu saya permasalahan brand ini, dan memang 100 persen saya setuju dengan beliau karena itu saya merasa perlu membahas dari awal terlebih dahulu apa itu brand agar kedepannya kita bisa mengerti mengenai masalah-masalah brand lebih jauh.
Ok, bagaimana jika kita mulai dengan mengungkapkan sebuah kata, HONDA. apa yang terpikir di benak kita? kualitas tingga, hemat, harga jual tinggi, keren, purna jual yang memuaskan, suku cadang gampang, ada di mana-mana dan seterusnya. Bagaimana dengan BMW, keren, mewah, gaya hidup, mahal, eksklusif, orang kaya, style, kenyamanan, coll dan seterusnya. kalo The Valley, bandung, tempatnya indah, sejuk, mewah, nikmat.
Nah dari Honda, BMW, The Valley apa yang bisa kita tangkap? yah setiap nama tersebut memiliki arti atau nilai di benak masing-masing orang, ketika saya berpikir sal BMW hal di ataslah yang timbul, begitupun ketika teman saya saya tanyakan mengenai Honda, sehingga dari hal yang sederhana di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa brand adalah kumpulan nilai yang melekat pada sebuah produk.
Sederhana sekali bukan, bahkan hal sederhana ini kadang kala dijelaskan sampai ber bab bab di dalam buku yang pada kesimpulannya kita masih tidak bisa menangkap esensi dari apa yang kita baca. sekali lagi pada diskusi awal ini saya ingin mengatakan dan berharap pembaca dapat setuju bahwa brand adalah sekumpulan nilai. dan nilai inilah yang menjadi dasar keunggulan setiap produk dalam persaingan di pasar.tentu permasalahannya untuk mencreate nilai-nilai tersebut di pasar bukanlah permasalahn yang mudah, butuh strategy, dana dan sumber daya yang besar dan inilah yang kita namakan branding yaitu proses membangun brand yang akan kita bahas pada edisi berikutnya.
Rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Brand, apa sih sebenarnya brand itu? bertahun-tahun berbicara dengan banyak orang baik itu klien, calon karyawan, mahasiswa ataupu akedemisi sekalipun hampir semua jawaban yang saya dapatkan bias. dalam artian hampir tidak ada satupun yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti apa itu sebenarnya brand. tentu semua jawaban yang saya dapatkan setelah didiskusikan memiliki argumen sendiri dan tentu tidak bisa dikatakan salah karena demiakianlah pengertian yang melekat selama ini di benak masing-masing orang dan juga kadang dalam prateknya hal tersebut berhasil.
Brand sebagai sebuah bahasa rasanya bukan lagi hal yang asing di masyarakat umum rasanya, tukang nasi goreng (kribo), tukang perkedel (perkedel bondon) dan bahkan tukang baso (bu lela) bahkan sudah mengerti dengan baik pentingnya sebuah brand sehingga mereka bisa membangun perusahaan demikian besar. lantas mengapa masih banyak sekali orang yang tidak dapat menjelaskan makna dari brand? it's easy to think but hard to say, demikianlah salah satu guru saya pernah memberi tahu saya permasalahan brand ini, dan memang 100 persen saya setuju dengan beliau karena itu saya merasa perlu membahas dari awal terlebih dahulu apa itu brand agar kedepannya kita bisa mengerti mengenai masalah-masalah brand lebih jauh.
Ok, bagaimana jika kita mulai dengan mengungkapkan sebuah kata, HONDA. apa yang terpikir di benak kita? kualitas tingga, hemat, harga jual tinggi, keren, purna jual yang memuaskan, suku cadang gampang, ada di mana-mana dan seterusnya. Bagaimana dengan BMW, keren, mewah, gaya hidup, mahal, eksklusif, orang kaya, style, kenyamanan, coll dan seterusnya. kalo The Valley, bandung, tempatnya indah, sejuk, mewah, nikmat.
Nah dari Honda, BMW, The Valley apa yang bisa kita tangkap? yah setiap nama tersebut memiliki arti atau nilai di benak masing-masing orang, ketika saya berpikir sal BMW hal di ataslah yang timbul, begitupun ketika teman saya saya tanyakan mengenai Honda, sehingga dari hal yang sederhana di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa brand adalah kumpulan nilai yang melekat pada sebuah produk.
Sederhana sekali bukan, bahkan hal sederhana ini kadang kala dijelaskan sampai ber bab bab di dalam buku yang pada kesimpulannya kita masih tidak bisa menangkap esensi dari apa yang kita baca. sekali lagi pada diskusi awal ini saya ingin mengatakan dan berharap pembaca dapat setuju bahwa brand adalah sekumpulan nilai. dan nilai inilah yang menjadi dasar keunggulan setiap produk dalam persaingan di pasar.tentu permasalahannya untuk mencreate nilai-nilai tersebut di pasar bukanlah permasalahn yang mudah, butuh strategy, dana dan sumber daya yang besar dan inilah yang kita namakan branding yaitu proses membangun brand yang akan kita bahas pada edisi berikutnya.
Rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Tuesday, December 12, 2006
Bocah Gendeng dan Segmentasi
Saat lagi santai menikmati hidangan the manis hangat di teras seorang sahabat tiba-tiba datang dan bertanya kepada saya, eh rex segmentasi itu apa sih? Kebenaran sahabat saya ini masih kuliah, terhitung angkatan senior (-:, dan rada gendeng. Wah tumben nih tiba-tiba nanyain hal yang berhubungan dengan pelajaran, pikir saya. “ada apa nih, kok nanya pelajaran yang ga ada hubungan langsung dengan jurusan kamu?”.
Kemudian sahabat saya tersebut menceritakan bahwa sekarang ada mata kuliah pilihan dan kebenaran dia mengambil mata kuliah pemasaran, oh pantesan guman hati saya. Ok deh, saya coba jelaskan secara singkat makna dari segmentasi yang kamu tanyakan dengan sebuah pertanyaan. Kalo kamu punya sebuah produk atau service katakanlah, kemana dan kepada siapa kamu menjualnya? Wah tergantung dong rex, kalo misalnya gua punya mobil mewah yah gua bakal jual ke orang-orang yang kaya yang bisa membeli mobil tersebut, nah kalo gua jualnya Brownis, gua akan jual kekalangan ibu-ibu karena biasanya merekalah yang suka membeli makanan ringan seperti itu. Nah pertanyaan lagi nih, kenapa jual mobil mewah dengan orang kaya? Yah pertanyaan bego lo ah, yah karena itulah pasar mobil mewah??????? Nah kalo gitu dah ngerti khan apa itu segmen, tanya saya lagi. Oh iya juga yah he.......he, jawab teman saya tersebut.
Pada dasarnya makna dari segmentasi itu sangatlah sederhana yaitu kita mencoba memetahkan orang berdasarkan beberapa kategori tertentu menurut pandangan kita si empunya produk atau jasa. Dalam pengertian lain, beberapa pakar juga mengatakan bahwa segmentasi dalah cara kita memandang sebuah market dengan cermat dan kreatif sehingga implementasi strategi bisnis perusahaan dapat berjalan sesuai dengan visi, misi dan rencana perusahaan.
Secara teoritis ada 3 pendekatan segmentasi yang bisa dijalankan ole perusahaan dalam melakukan segmentasi bagi produk atau jasa mereka. Pertama adalah static attribute segmentation. Pendekatan ini penekanannya lebih kepada hal-hal yang bersifat static atau seperti apa adanya, sama sekali tidak menyentuh sisi human characteristic seperti sikap dan tingkah laku. Pandekatan ini biasanya didasarkan pada dua faktor yaitu geografis dan domografis (kelamin, umur dsb). Kedua, dynamic attribute segmentation. Pendekatan kedua ini mengakomodir sisi dari manusia dan juga memberikan gambaran yang lengkap tentang sikap dan tingkah laku seseorang dalam melakukan pembelian dan mengambil keputusan terhadap sebuah produk misalnya. Pendekatan ini biasanya didasarkan pada dua faktor yaitu psikografis dan behaviour. Ketiga adalah one to one segmentation, ini metode yang cukup hangat dibicarakan saat ini, dimana segmentasi dilakukan berdasarkan pribadi masing-masing orang.
Ketiga pendekatan diatas memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing tergantung bagaiman situasi persaingan, konsumen saat itu dan beberapa kondisi lainnya yang berpengaruh terhadap penjualan produk kita seperti aturan pemerintah dsb. Pendekatan pertama mungkin sangat cocok bila produk kita merupakan satu-satunya produk yang ada di pasaran karena ngapain juga capek-capek ngurusin tingkah laku pembelian, yang penting barang tersedia beres. Lain halnya kalo produk kita ternyata punya pesaing yang bejibun, bisa bisa modar kita kalo cuma ngandalin segementasi berdasarkan geografis ataupun demografis.
Gimana sudah cukup jelas? Tanya saya kepada sahabat saya tersebut. Hmm lumayan deh, trus pertanyaan terakhir nih friend, lanjut teman saya. Kalo gua mensegmen apa ajah yang harus gua perhatikan? Hmm, iya juga yah, yang ini penting juga. gini, sederhananya ada beberapa hal yang mungkin kamu perlu perhatikan, pertama segmen tersebut besar dan potensial untuk di garap kaga, ato kalopun niche market, potensi ke depannya bagus ga. Kedua kamu harus menganalysis dan menemukan segmen dengan metode yang sangat tepat, sehingga bisa terbaca dengan jelas prilaku dan karakteristik konsumennya bisa ditemukan dan di dapat dengan jelas. Ketiga, yah think the opposite lah, maksudnya coba pandang segmen kamu dengan cara yang berbeda dengan pesaing kamu, sehingga di situ kamu bisa lead dari competitor kamu.
Dasar bocah gendeng, orang lagi enak istirahat malah nanya-nanya segmentasi, Cuma ya semoga kamu ngerti deh. Ok deh rex thanks, ntar kita ngobrol2 lagi yah. See you.
rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Saat lagi santai menikmati hidangan the manis hangat di teras seorang sahabat tiba-tiba datang dan bertanya kepada saya, eh rex segmentasi itu apa sih? Kebenaran sahabat saya ini masih kuliah, terhitung angkatan senior (-:, dan rada gendeng. Wah tumben nih tiba-tiba nanyain hal yang berhubungan dengan pelajaran, pikir saya. “ada apa nih, kok nanya pelajaran yang ga ada hubungan langsung dengan jurusan kamu?”.
Kemudian sahabat saya tersebut menceritakan bahwa sekarang ada mata kuliah pilihan dan kebenaran dia mengambil mata kuliah pemasaran, oh pantesan guman hati saya. Ok deh, saya coba jelaskan secara singkat makna dari segmentasi yang kamu tanyakan dengan sebuah pertanyaan. Kalo kamu punya sebuah produk atau service katakanlah, kemana dan kepada siapa kamu menjualnya? Wah tergantung dong rex, kalo misalnya gua punya mobil mewah yah gua bakal jual ke orang-orang yang kaya yang bisa membeli mobil tersebut, nah kalo gua jualnya Brownis, gua akan jual kekalangan ibu-ibu karena biasanya merekalah yang suka membeli makanan ringan seperti itu. Nah pertanyaan lagi nih, kenapa jual mobil mewah dengan orang kaya? Yah pertanyaan bego lo ah, yah karena itulah pasar mobil mewah??????? Nah kalo gitu dah ngerti khan apa itu segmen, tanya saya lagi. Oh iya juga yah he.......he, jawab teman saya tersebut.
Pada dasarnya makna dari segmentasi itu sangatlah sederhana yaitu kita mencoba memetahkan orang berdasarkan beberapa kategori tertentu menurut pandangan kita si empunya produk atau jasa. Dalam pengertian lain, beberapa pakar juga mengatakan bahwa segmentasi dalah cara kita memandang sebuah market dengan cermat dan kreatif sehingga implementasi strategi bisnis perusahaan dapat berjalan sesuai dengan visi, misi dan rencana perusahaan.
Secara teoritis ada 3 pendekatan segmentasi yang bisa dijalankan ole perusahaan dalam melakukan segmentasi bagi produk atau jasa mereka. Pertama adalah static attribute segmentation. Pendekatan ini penekanannya lebih kepada hal-hal yang bersifat static atau seperti apa adanya, sama sekali tidak menyentuh sisi human characteristic seperti sikap dan tingkah laku. Pandekatan ini biasanya didasarkan pada dua faktor yaitu geografis dan domografis (kelamin, umur dsb). Kedua, dynamic attribute segmentation. Pendekatan kedua ini mengakomodir sisi dari manusia dan juga memberikan gambaran yang lengkap tentang sikap dan tingkah laku seseorang dalam melakukan pembelian dan mengambil keputusan terhadap sebuah produk misalnya. Pendekatan ini biasanya didasarkan pada dua faktor yaitu psikografis dan behaviour. Ketiga adalah one to one segmentation, ini metode yang cukup hangat dibicarakan saat ini, dimana segmentasi dilakukan berdasarkan pribadi masing-masing orang.
Ketiga pendekatan diatas memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing tergantung bagaiman situasi persaingan, konsumen saat itu dan beberapa kondisi lainnya yang berpengaruh terhadap penjualan produk kita seperti aturan pemerintah dsb. Pendekatan pertama mungkin sangat cocok bila produk kita merupakan satu-satunya produk yang ada di pasaran karena ngapain juga capek-capek ngurusin tingkah laku pembelian, yang penting barang tersedia beres. Lain halnya kalo produk kita ternyata punya pesaing yang bejibun, bisa bisa modar kita kalo cuma ngandalin segementasi berdasarkan geografis ataupun demografis.
Gimana sudah cukup jelas? Tanya saya kepada sahabat saya tersebut. Hmm lumayan deh, trus pertanyaan terakhir nih friend, lanjut teman saya. Kalo gua mensegmen apa ajah yang harus gua perhatikan? Hmm, iya juga yah, yang ini penting juga. gini, sederhananya ada beberapa hal yang mungkin kamu perlu perhatikan, pertama segmen tersebut besar dan potensial untuk di garap kaga, ato kalopun niche market, potensi ke depannya bagus ga. Kedua kamu harus menganalysis dan menemukan segmen dengan metode yang sangat tepat, sehingga bisa terbaca dengan jelas prilaku dan karakteristik konsumennya bisa ditemukan dan di dapat dengan jelas. Ketiga, yah think the opposite lah, maksudnya coba pandang segmen kamu dengan cara yang berbeda dengan pesaing kamu, sehingga di situ kamu bisa lead dari competitor kamu.
Dasar bocah gendeng, orang lagi enak istirahat malah nanya-nanya segmentasi, Cuma ya semoga kamu ngerti deh. Ok deh rex thanks, ntar kita ngobrol2 lagi yah. See you.
rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Monday, December 11, 2006
POCARI dan adik angkat baru nya MARI
Di sebuah sore yang melelahkan ternyata saya harus mengalami shock berat. setelah beberapa waktu lalu mendengar tentang extra dan eren walahhh ada lagi yang bikin saya di satu sisi geli tapi di satu sisi jadi berpikir juga. Pada saat saya makan mi instan (makanan favorit gua) dan mencari acara TV yang bagus, ya terjadilah saya melihat iklan si mari sweat ini mungkin masih adik jauhnya si pocari, tapi walau mari mengaku adik jauh (hanya soal nama belakang sweat) tapi nyatanya mereka nampak kembar. dari baju kemasan, karakter air dan "peluh" nya hingga warna si biru putih pun ikutan di coreng-corengin. yah okey, memang sampai sekarang itu "bukan masalah"
Yang bikin saya bingung sekarang, entah memang semua orang seperti saya atau nga yah, karena sedari kecil mungkin ini bagian dari doktrinasi ayah saya yang selalu hanya merekomendasikan membeli barang dengan brand terbaik (dulu tajir -sekarang setelah belajar hidup sendiri boro2, makan mi instan aja pilih yang paling murah :P) sampai sekarang saya masih enggan (walau uang pas2an) untuk beli produk yang meniru seperti itu, saya benar2 akan prefer untuk pilih produk lain yang lebih murah yang beda sama skali dari si raja pasar itu dibanding harus beli produk yang saya tau hanya meniru si raja pasar (apa mungkin karena saya kerja di bidang kreatif jadi packaging promosi dan segalanya benar2 pengaruh buat saya untuk mengkonsumsi sesuatu) saya tidak tahu kalau "pasar" ternyata bertindak lain, bahwa it's ok to consume sang produk peniru.
saya jadi ingat sewaktu makan di "bu jawa" tempat makan murah banyak dan puas andalan anak-anak kos setempat, dijual banyak permen-permen ber merk -ya ampun i cant believe it- cola cola atau funta atau sprit, yah yang seperti itulah (kalau tidak salah ingat namanya seperti itu pokonya nyrempet dikiiiiittttt banget dari asilnya) dengan karakter tulisan dan warna yang SAMA PERCIS dengan aslinya, wakakakaa... sambil makan martabak goreng dan minum nutri sari kemanisan saya cekikikan sendiri dengan seorang teman, adaa ajaaa.. yang bikin saya tambah bingung lagi ada gitu yang beli???????
-------------------------
Beberapa bulan yang lalu saya sempat menulis tulisan singkat tentang saudara-saudara tiri produk-produk besar tersebut, dan mendapat beberapa tanggapan dari teman-teman milis periklanan lainnya. Tapi usaha para saudara tiri cola dan fanta atau apapun juga tidak stop saja sampai pada distribusi mereka yang gencar di beberapa lapisan masyarakat menengah bawah hingga menengah. Sekarang-sekarang ini, merekapun sudah mulai terjun pada kampanye TVC, dan yah.. boleh dibilang mereka benar-benar siap untuk bersaing pada pasar yang sebenarnya. Di satu sisi boleh saja timbul pertanyaan di benak kita masing-masing, bahwa benarkah sudah menjadi satu budaya yang di"aku"kan masyarakat kita tentang kemiripan identitas di segala bidang, ya salah satunya dalam kategori naming ini. Tapi ya.. kita benar-benar harus mengakui bahwa produk-produk tersebut memang mengakui bahwa produk-produk tiri tersebut memang diterima masyarakat.
Jadi.. boleh lah kita menarik temporary conclusion, bahwa daya konsumsi masyarakat kita masih banyak yang berkiblat pada rasa dan harga, dibandingkan dengan kualitas. Tetapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa tidak sedikit yang (seperti saya) merasa bahwa orisinalitas adalah yang utama (lantaran.. sambil menyangkal diri sendiri, saya konsumen barang-barang bajakan juga, haha.. ) Yah.. memang setiap produk yang dipasarkan pasti memiliki arahan pasar yang memang sudah tercipta dalam masyarakat. Bahwa.. lapisan masyarakat yang begitu kompleksnya menjadi peluang bagi kita semua..
stef_
Creative Director
CreasionBrand
Di sebuah sore yang melelahkan ternyata saya harus mengalami shock berat. setelah beberapa waktu lalu mendengar tentang extra dan eren walahhh ada lagi yang bikin saya di satu sisi geli tapi di satu sisi jadi berpikir juga. Pada saat saya makan mi instan (makanan favorit gua) dan mencari acara TV yang bagus, ya terjadilah saya melihat iklan si mari sweat ini mungkin masih adik jauhnya si pocari, tapi walau mari mengaku adik jauh (hanya soal nama belakang sweat) tapi nyatanya mereka nampak kembar. dari baju kemasan, karakter air dan "peluh" nya hingga warna si biru putih pun ikutan di coreng-corengin. yah okey, memang sampai sekarang itu "bukan masalah"
Yang bikin saya bingung sekarang, entah memang semua orang seperti saya atau nga yah, karena sedari kecil mungkin ini bagian dari doktrinasi ayah saya yang selalu hanya merekomendasikan membeli barang dengan brand terbaik (dulu tajir -sekarang setelah belajar hidup sendiri boro2, makan mi instan aja pilih yang paling murah :P) sampai sekarang saya masih enggan (walau uang pas2an) untuk beli produk yang meniru seperti itu, saya benar2 akan prefer untuk pilih produk lain yang lebih murah yang beda sama skali dari si raja pasar itu dibanding harus beli produk yang saya tau hanya meniru si raja pasar (apa mungkin karena saya kerja di bidang kreatif jadi packaging promosi dan segalanya benar2 pengaruh buat saya untuk mengkonsumsi sesuatu) saya tidak tahu kalau "pasar" ternyata bertindak lain, bahwa it's ok to consume sang produk peniru.
saya jadi ingat sewaktu makan di "bu jawa" tempat makan murah banyak dan puas andalan anak-anak kos setempat, dijual banyak permen-permen ber merk -ya ampun i cant believe it- cola cola atau funta atau sprit, yah yang seperti itulah (kalau tidak salah ingat namanya seperti itu pokonya nyrempet dikiiiiittttt banget dari asilnya) dengan karakter tulisan dan warna yang SAMA PERCIS dengan aslinya, wakakakaa... sambil makan martabak goreng dan minum nutri sari kemanisan saya cekikikan sendiri dengan seorang teman, adaa ajaaa.. yang bikin saya tambah bingung lagi ada gitu yang beli???????
-------------------------
Beberapa bulan yang lalu saya sempat menulis tulisan singkat tentang saudara-saudara tiri produk-produk besar tersebut, dan mendapat beberapa tanggapan dari teman-teman milis periklanan lainnya. Tapi usaha para saudara tiri cola dan fanta atau apapun juga tidak stop saja sampai pada distribusi mereka yang gencar di beberapa lapisan masyarakat menengah bawah hingga menengah. Sekarang-sekarang ini, merekapun sudah mulai terjun pada kampanye TVC, dan yah.. boleh dibilang mereka benar-benar siap untuk bersaing pada pasar yang sebenarnya. Di satu sisi boleh saja timbul pertanyaan di benak kita masing-masing, bahwa benarkah sudah menjadi satu budaya yang di"aku"kan masyarakat kita tentang kemiripan identitas di segala bidang, ya salah satunya dalam kategori naming ini. Tapi ya.. kita benar-benar harus mengakui bahwa produk-produk tersebut memang mengakui bahwa produk-produk tiri tersebut memang diterima masyarakat.
Jadi.. boleh lah kita menarik temporary conclusion, bahwa daya konsumsi masyarakat kita masih banyak yang berkiblat pada rasa dan harga, dibandingkan dengan kualitas. Tetapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa tidak sedikit yang (seperti saya) merasa bahwa orisinalitas adalah yang utama (lantaran.. sambil menyangkal diri sendiri, saya konsumen barang-barang bajakan juga, haha.. ) Yah.. memang setiap produk yang dipasarkan pasti memiliki arahan pasar yang memang sudah tercipta dalam masyarakat. Bahwa.. lapisan masyarakat yang begitu kompleksnya menjadi peluang bagi kita semua..
stef_
Creative Director
CreasionBrand
The Love of Dove
Melanjutkan diskusi ngelantur singkat kemaren bersama teman kerja saya di area meeting baru kami, saya menyisipkan post singkat di salah satu milis, berkomentar tentang strategi Dove yang, saya nyaris tidak percaya kalau hampir semua orang membicarakannya. Entah hal ini sebenarnya bukan merupakan hal yang baru, Dove bukan baru kemarin melancarkan strategi persahabatan itu : The Love of Dove. Tapi ada dua hal sebenarnya yang ingin saya bahas. Yang pertama : Oprah adalah suatu media yang menggemparkan, sangat menggemparkan dan saya tidak percaya kalau efeknya sebesar itu, seperti yang sebelumnya saya katakan bahwa sudah sejak beberapa waktu lalu (hitungan bulan) Dove memulai strategi persahabatan yang ia jalankan, tetapi sejak muncul di Oprah Show (Dove based on America, tentunya) baru setelah itu semua orang membicarakannya, ya termasuk teman kerja saya dan orang-orang di milis. Ternyata that Oprah really does work.. dan memang jarang sih ada hal-hal komersil in that show, tapi karena saya juga tidak menonton nya secara langsung, saya tidak bisa bercerita terlalu banyak, mungkin saya lebih banyak bercerita tentang dampaknya, karena saya memang yang terkena dampaknya.
Pertama kali saya menyadari Dove’s new brand activation, yaitu berupa pengangkatan sisi persahabatan common women, sebenarnya saya tidak terlalu terkejut juga sih, karena bagi saya sebagai seorang wanita, ini bukan hal yang benar-benar baru, dalam artian mengangkat persahabatan sebagai simbol dari kecantikan, di mana pada brand activation sunsilk girls day pun melakukan hal yang serupa hanya saja perbedaan target usia market. Tapi reaksi dari orang lain, ya mungkin teman kerja saya yang laki-laki dan orang-orang milis yang juga laki-laki beranggapan bahwa hal ini adalah hal yang baru, berbeda dan cerdas. Mau tidak mau sayapun jadi berpikir ulang tentang semuanya. Ternyata demikian, ini hal kedua yang ingin saya sampaikan. Bahwa ternyata memang tidak hanya unsur persabahatan dan cinta saja yang ingin ditampilkan dari momen ini, tetapi adanya kejujuran (begitu kata teman kerja saya) yang dalam from this activation, yaitu penggunaan common women. Ya.. boleh dibilang sih mungkin saja target market terutama para wanita, sudah cukup muak dengan melihat berbagai kecantikan (yang bagi diri mereka sendiri adalah semu) yang diombar ambir di layar kaca. Tubuh langsing putih, hidung mancung, rambut indah dan wajah bule, sepertinya tidak dapat lagi secara nyata menggambarkan makna sebuah kecantikan. Melalui Dove, makna sebuah kecantikan dijabarkan sebagai sebuah kecantikan hati melalui cinta dan persahabatan. Yah.. sekali lagi saya bilang, it is really touching, terutama bagi mereka yang ingin melihat kepada diri mereka sendiri, siapa dia dan seberapa cantikah dia?
Oh iya hampir lupa, ternyata ada tiga hal yang ingin saya sampaikan. Yang ketiga adalah Dove melakukan suatu pendekatan yang berbeda dikarenakan adanya kejenuhan terhadap suatu kondisi tertentu di pasar, dalam hal ini terpolanya penyampaian pesan kecantikan melalui artis atau endorser cantik fisik lainnya. Maka Dove melakukan pendekatan lain, secara emosional untuk menyiasati kejenuhan tersebut. Apabila suatu hari semua orang sadar bahwa pendekatan emosional merupakan hal yang sangat cerdas dan semua orang melakukan hal yang sama, ya.. sudah seharusnya ada pendekatan lain lagi yang dilakukan, karena tentu saja pasar telah kembali jenuh. So, the point is not about the emotional or physical or another side we get through, but it is about the innovation of strategy, new way of thingking..
Ste_
Creative Director
CreasionBrand
Melanjutkan diskusi ngelantur singkat kemaren bersama teman kerja saya di area meeting baru kami, saya menyisipkan post singkat di salah satu milis, berkomentar tentang strategi Dove yang, saya nyaris tidak percaya kalau hampir semua orang membicarakannya. Entah hal ini sebenarnya bukan merupakan hal yang baru, Dove bukan baru kemarin melancarkan strategi persahabatan itu : The Love of Dove. Tapi ada dua hal sebenarnya yang ingin saya bahas. Yang pertama : Oprah adalah suatu media yang menggemparkan, sangat menggemparkan dan saya tidak percaya kalau efeknya sebesar itu, seperti yang sebelumnya saya katakan bahwa sudah sejak beberapa waktu lalu (hitungan bulan) Dove memulai strategi persahabatan yang ia jalankan, tetapi sejak muncul di Oprah Show (Dove based on America, tentunya) baru setelah itu semua orang membicarakannya, ya termasuk teman kerja saya dan orang-orang di milis. Ternyata that Oprah really does work.. dan memang jarang sih ada hal-hal komersil in that show, tapi karena saya juga tidak menonton nya secara langsung, saya tidak bisa bercerita terlalu banyak, mungkin saya lebih banyak bercerita tentang dampaknya, karena saya memang yang terkena dampaknya.
Pertama kali saya menyadari Dove’s new brand activation, yaitu berupa pengangkatan sisi persahabatan common women, sebenarnya saya tidak terlalu terkejut juga sih, karena bagi saya sebagai seorang wanita, ini bukan hal yang benar-benar baru, dalam artian mengangkat persahabatan sebagai simbol dari kecantikan, di mana pada brand activation sunsilk girls day pun melakukan hal yang serupa hanya saja perbedaan target usia market. Tapi reaksi dari orang lain, ya mungkin teman kerja saya yang laki-laki dan orang-orang milis yang juga laki-laki beranggapan bahwa hal ini adalah hal yang baru, berbeda dan cerdas. Mau tidak mau sayapun jadi berpikir ulang tentang semuanya. Ternyata demikian, ini hal kedua yang ingin saya sampaikan. Bahwa ternyata memang tidak hanya unsur persabahatan dan cinta saja yang ingin ditampilkan dari momen ini, tetapi adanya kejujuran (begitu kata teman kerja saya) yang dalam from this activation, yaitu penggunaan common women. Ya.. boleh dibilang sih mungkin saja target market terutama para wanita, sudah cukup muak dengan melihat berbagai kecantikan (yang bagi diri mereka sendiri adalah semu) yang diombar ambir di layar kaca. Tubuh langsing putih, hidung mancung, rambut indah dan wajah bule, sepertinya tidak dapat lagi secara nyata menggambarkan makna sebuah kecantikan. Melalui Dove, makna sebuah kecantikan dijabarkan sebagai sebuah kecantikan hati melalui cinta dan persahabatan. Yah.. sekali lagi saya bilang, it is really touching, terutama bagi mereka yang ingin melihat kepada diri mereka sendiri, siapa dia dan seberapa cantikah dia?
Oh iya hampir lupa, ternyata ada tiga hal yang ingin saya sampaikan. Yang ketiga adalah Dove melakukan suatu pendekatan yang berbeda dikarenakan adanya kejenuhan terhadap suatu kondisi tertentu di pasar, dalam hal ini terpolanya penyampaian pesan kecantikan melalui artis atau endorser cantik fisik lainnya. Maka Dove melakukan pendekatan lain, secara emosional untuk menyiasati kejenuhan tersebut. Apabila suatu hari semua orang sadar bahwa pendekatan emosional merupakan hal yang sangat cerdas dan semua orang melakukan hal yang sama, ya.. sudah seharusnya ada pendekatan lain lagi yang dilakukan, karena tentu saja pasar telah kembali jenuh. So, the point is not about the emotional or physical or another side we get through, but it is about the innovation of strategy, new way of thingking..
Ste_
Creative Director
CreasionBrand
Cewe itu bernama Brandi.ng
Dear brandi.ng,
Sejujurnya Sejak pertemuan kita di majalah desain favoritku ,aku merasa ada rasa terhadapmu. Awalnya aku lihat kau hanya sekedar ilmu yang hanya mengurusi tentang "visual identity" saja, tapi ternyata hal hal lain yang menyangkut "image" sebuah perusahaan pun kau susun secara rapi dan akhirnya saling berintegrasi dan yang memang ujungnya adalah meningkatnya pendapatan perusahaan tersebut .
Aku dulu ga suka marketing,aku pikir itu semua hanya usaha orang untuk saling menipu, tapi sekarang hal tersebut hilang begitu saja, ketika aku mulai mengenalmu. Tuhan sepertinya mentakdirkan kita bersama, di kantor yang sekarang ini, kau makin tak lepas dari ingatanku, kau semakin memikat sayang! Hingga saat ini aku selalu ingin terus berada di sekitarmu,mengenalmu lebih baik ,meski aku mengenalmu melalui "pintu" art.
Say, tau ga kenapa aku suka sama kamu? karena aku pikir kamu tuh dapat membuat sebuah kata kata menjadi bernilai dan bermakna, contohnya aja kalo kita sebut mobil "Toyota Kijang" ,pasti yang terpikir oleh kita adalah aman,keluarga dan lega. Nah yang kaya gitu itu yang bikin gw makin kesengsem ama kamu. Brandi.ng sayang,beberapa bulan lalu aku sudah bicara sama orang tua ku, bahwa aku mau serius sama kamu, semoga ini karir yang pas buat aku. Makin deket ya ama aku.
your lovely boyfriend
Yudi
Art Director
CreasionBrand
Dear brandi.ng,
Sejujurnya Sejak pertemuan kita di majalah desain favoritku ,aku merasa ada rasa terhadapmu. Awalnya aku lihat kau hanya sekedar ilmu yang hanya mengurusi tentang "visual identity" saja, tapi ternyata hal hal lain yang menyangkut "image" sebuah perusahaan pun kau susun secara rapi dan akhirnya saling berintegrasi dan yang memang ujungnya adalah meningkatnya pendapatan perusahaan tersebut .
Aku dulu ga suka marketing,aku pikir itu semua hanya usaha orang untuk saling menipu, tapi sekarang hal tersebut hilang begitu saja, ketika aku mulai mengenalmu. Tuhan sepertinya mentakdirkan kita bersama, di kantor yang sekarang ini, kau makin tak lepas dari ingatanku, kau semakin memikat sayang! Hingga saat ini aku selalu ingin terus berada di sekitarmu,mengenalmu lebih baik ,meski aku mengenalmu melalui "pintu" art.
Say, tau ga kenapa aku suka sama kamu? karena aku pikir kamu tuh dapat membuat sebuah kata kata menjadi bernilai dan bermakna, contohnya aja kalo kita sebut mobil "Toyota Kijang" ,pasti yang terpikir oleh kita adalah aman,keluarga dan lega. Nah yang kaya gitu itu yang bikin gw makin kesengsem ama kamu. Brandi.ng sayang,beberapa bulan lalu aku sudah bicara sama orang tua ku, bahwa aku mau serius sama kamu, semoga ini karir yang pas buat aku. Makin deket ya ama aku.
your lovely boyfriend
Yudi
Art Director
CreasionBrand
Manusia itu Sulit
Tadi ketika asyik ngobrol melepas lelah sepulangnya dari kantor ada yang menanyakan kepada saya apa sih leadership itu dan bagaimana menjadi seorang leader yang baik. hmm pertanyaan yang benar-benar berat untuk menjelaskan dengan jawaban yang tepat.
Dengan santai gua jelaskan kepada sahabat gua tersebut bahwa kalo ingin secara teoritis, lebih jelas dan dilengkapi dengan contoh-contoh kepemimpinan mungkin ada baiknya dia membaca 22 irrutable laws of leadershipnya Jhon maxwell, membaca forbes dan buku-buku lainnya yang berhubungan dengan kepemimpinan. nah di semua literatur itu dijelaskan dengan sangat-sangat baik mengenai kepemimpinan.
Nah yang jadi masalah dia malah menanyakan bagaimana dengan yang gua rasakan dan jalani. wah berat nih, oke lah secara acak-acakan gua mungkin bisa sedikit berbagi cerita seperti apa sih kepemimpinan itu menurut pengalaman hidup gua tentunya. pertama buat gua seorang pemimpin itu harus mempunyai visi bagi seluruh komponen perusahaannya. seorang pemimpin harus bisa memikirkan akan dibawa kemana semua kompenen perusahaan dalam jangka panjang. mungkin secara sederhana bila kita bisa bermimpi tidak hanya untuk kebaikan diri kita sendiri tapi untuk kebaikan banyak orang, maka orang itu mungkin bisa disebut seorang pemimpin. kedua, seorang pemimpin buat gua harus mau belajar lebih banyak dari yang dipimpinnya. dengan kata lain, seorang pemimpin harus yang berilmu lebih baik dari yang dipimpinnya. saya teringat pesan guru mengaji saya ketika masih kecil, kalo ingin sholat berjamaah pilihlah imam yang paling baik ilmu agamanya agar ia bisa membimbing sholat dengan baik untuk mencapai impian kita semua mendapat ridho Allah. jadi di sini saya sekali ingin menekankan, pemimpin dalam bidang apapun ia harus memiliki ilmu yang seharusnya lebih baik dari yang ia pimpin.
Ketiga, seorang pemimpin harus mengalami kegagalan dalam hidupnya. nah loh aneh banget khan nih, cuma yah ini yang saya rasakan. banyaknya keberhasilan yang tertunda di masa yang lalu benar-benar memberikan pelajaran yang sangat tidak terharga yang bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih baik di masa sekarang. kegagalan dalam mengelolah team di masa lalu menjadikan kita belajar lebih banyak bagaimana mengelolahnya di masa sekarang dan masa depan dan kegagalan apapun selalu menjadi pelajaran yang sangat berguna. keempat, seorang pemimpin harus selalu menghargai dan mau mendengarkan orang-orang yang ia pimpim, kembali lagi pengalaman gua yang bisa membuat mengatakan hal ini, secara sederhana harusnya seorang pemimpin harus sering berterimakasih dengan seluruh orang yang ada di sekelilingnya, apapun bentuk sikap dan perlakukan orang-orang di sekitarnya baik itu yang positif ataupun yang negatif.
Apalagi yah, wah banyak banget deh syaratnya misalnya seperti harus menjadi pendengar yang baik, berani mengambil keputusan-keputusan yang strategis dan sulit, harus jadi pengayom yang baik, teman diskusi yang demokratis dan sebaginya-sebagainya. buanyakkkk banget khan, gua pikir itulah nikmatnya jadi seorang pemimpin, kita belajar banyak hal dalam hidup ini.
Nah kalo ditanya apa yang tersulit ketika menjadi seorang pemimpin, buat gua hanya ada satu jawaban, manusia. entah mengapa hal inilah yang paling sulit yang pernah gua rasakan ketika memimpin, tidak ada ilmu yang tepat, tidak ada cara yang sama dalam menghadapi manusia satu dengan manusia yang lainnya dan tidak ada metode apapun yang bisa menjelaskan mengapa kadang orang bersikap mengjengkelkan, tidak professional, ambisius ataupun sikap-sikap lainnya. bikin stress deh pokoknya, sampe gua perbah mikir kok rasanya jualan itu gampang banget yah tapi kalo ngurusin manusia, busetttt minta ampun deh gua.
Rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
Tadi ketika asyik ngobrol melepas lelah sepulangnya dari kantor ada yang menanyakan kepada saya apa sih leadership itu dan bagaimana menjadi seorang leader yang baik. hmm pertanyaan yang benar-benar berat untuk menjelaskan dengan jawaban yang tepat.
Dengan santai gua jelaskan kepada sahabat gua tersebut bahwa kalo ingin secara teoritis, lebih jelas dan dilengkapi dengan contoh-contoh kepemimpinan mungkin ada baiknya dia membaca 22 irrutable laws of leadershipnya Jhon maxwell, membaca forbes dan buku-buku lainnya yang berhubungan dengan kepemimpinan. nah di semua literatur itu dijelaskan dengan sangat-sangat baik mengenai kepemimpinan.
Nah yang jadi masalah dia malah menanyakan bagaimana dengan yang gua rasakan dan jalani. wah berat nih, oke lah secara acak-acakan gua mungkin bisa sedikit berbagi cerita seperti apa sih kepemimpinan itu menurut pengalaman hidup gua tentunya. pertama buat gua seorang pemimpin itu harus mempunyai visi bagi seluruh komponen perusahaannya. seorang pemimpin harus bisa memikirkan akan dibawa kemana semua kompenen perusahaan dalam jangka panjang. mungkin secara sederhana bila kita bisa bermimpi tidak hanya untuk kebaikan diri kita sendiri tapi untuk kebaikan banyak orang, maka orang itu mungkin bisa disebut seorang pemimpin. kedua, seorang pemimpin buat gua harus mau belajar lebih banyak dari yang dipimpinnya. dengan kata lain, seorang pemimpin harus yang berilmu lebih baik dari yang dipimpinnya. saya teringat pesan guru mengaji saya ketika masih kecil, kalo ingin sholat berjamaah pilihlah imam yang paling baik ilmu agamanya agar ia bisa membimbing sholat dengan baik untuk mencapai impian kita semua mendapat ridho Allah. jadi di sini saya sekali ingin menekankan, pemimpin dalam bidang apapun ia harus memiliki ilmu yang seharusnya lebih baik dari yang ia pimpin.
Ketiga, seorang pemimpin harus mengalami kegagalan dalam hidupnya. nah loh aneh banget khan nih, cuma yah ini yang saya rasakan. banyaknya keberhasilan yang tertunda di masa yang lalu benar-benar memberikan pelajaran yang sangat tidak terharga yang bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih baik di masa sekarang. kegagalan dalam mengelolah team di masa lalu menjadikan kita belajar lebih banyak bagaimana mengelolahnya di masa sekarang dan masa depan dan kegagalan apapun selalu menjadi pelajaran yang sangat berguna. keempat, seorang pemimpin harus selalu menghargai dan mau mendengarkan orang-orang yang ia pimpim, kembali lagi pengalaman gua yang bisa membuat mengatakan hal ini, secara sederhana harusnya seorang pemimpin harus sering berterimakasih dengan seluruh orang yang ada di sekelilingnya, apapun bentuk sikap dan perlakukan orang-orang di sekitarnya baik itu yang positif ataupun yang negatif.
Apalagi yah, wah banyak banget deh syaratnya misalnya seperti harus menjadi pendengar yang baik, berani mengambil keputusan-keputusan yang strategis dan sulit, harus jadi pengayom yang baik, teman diskusi yang demokratis dan sebaginya-sebagainya. buanyakkkk banget khan, gua pikir itulah nikmatnya jadi seorang pemimpin, kita belajar banyak hal dalam hidup ini.
Nah kalo ditanya apa yang tersulit ketika menjadi seorang pemimpin, buat gua hanya ada satu jawaban, manusia. entah mengapa hal inilah yang paling sulit yang pernah gua rasakan ketika memimpin, tidak ada ilmu yang tepat, tidak ada cara yang sama dalam menghadapi manusia satu dengan manusia yang lainnya dan tidak ada metode apapun yang bisa menjelaskan mengapa kadang orang bersikap mengjengkelkan, tidak professional, ambisius ataupun sikap-sikap lainnya. bikin stress deh pokoknya, sampe gua perbah mikir kok rasanya jualan itu gampang banget yah tapi kalo ngurusin manusia, busetttt minta ampun deh gua.
Rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand
