Friday, November 24, 2006

Inovation…Inovation!!! More..More…More!!!


“ Aneh ya jaman sekarang, orang-orang gampang sekali dibodohi, ini saya punya barang kalau dibandingkan pesaing kualitas di atas mereka lah, tapi ko susah banget ya masukin ke distributor, alasannya packaging-nya kurang bagus.” Seorang pemilik perusahaan bercerita tentang kondisi persaingan saat ini. Di lain cerita dia menjelaskan bahwa perusahaannya sudah berdiri lama dan dulu masalah packaging bukan menjadi masalah, produk-produknya menjadi salah satu produk favorit di masyarakat.

Wow…luar biasa dari produk yang digemari menjadi produk yang tidak diterima di distributor….padahal kalau dilihat dari sisi produk, produk tersebut memiliki kualitas yang relatif bisa dibilang unggul di kelasnya. Apa yang terjadi ?

Inovasi ! Inovasi ! Inovasi ! itu jawabannya. Inovasi mengandung pengertian yang sangat luas, inovasi harus dilakukan di berbagai aspek yang mendukung suatu bisnis. Tidak salah kalau distributor mengeluhkan tentang packaging yang digunakan, tidak salah kalau konsumen tidak lagi bisa menerima produk yang “dulu” menjadi unggulan, karena saat ini begitu banyak produk baru yang sejenis memiliki packaging yang beraneka ragam dengan bentuk design yang sangat menarik perhatian konsumen belum lagi inovasi dalam bentuk promosi yang semakin gencar dilakukan oleh pesaing untuk mencuci otak dari konsumen produk tersebut.

Suatu produk apapun itu akan mengalami suatu siklus dari mulai pengenalan awal produk, kemudian produk itu mulai diterima di masyarakat dan lama kelamaan dengan kondisi yang konsisten akan semakin mature keberadaannya di masyarakat, tapi ini belum selesai, saat pesaing-pesaing baru masuk dan mulai ikut memperebutkan “kue” yang ada, ceritanya menjadi lain. Masyarakat yang mungkin sudah mulai jenuh akan merasa tertarik untuk mencoba sesuatu yang baru, yang lebih fresh, lebih menarik, dan lebih beragam. Di sinilah apabila siklus bisnis tidak mau menjadi decline bersiaplah untuk bertempur, bersiaplah untuk berinovasi. Looking at the market, see needs & trends, and make your innovation.

Pada kondisi pasar yang demikian kacau dengan persaingan yang padat dan keras, kita harus dapat mengamati kebutuhan dari target pasar kita yang dengan berjalannya waktu selalu saja berubah, perubahan-perubahan kebutuhan itu akan berdampak pada tingkat kepuasan mereka dalam mengkonsumsi roduk yang kita tawarkan, di sinilah inovasi harus terus diciptakan untuk terus menerus menyesuaikan dengan ekspektasi kepuasan yang target pasar kita inginkan.

Bertahun- tahun yang lalu apabila kita melihat gedung-gedung bioskop yang ada, hanya akan identik dengan studio yang menampilkan acara bioskop yang akan ditayangkan, hal itu terus berkembang mulai dikombinasikan dengan adanya game centre dan lokasi yang bergabung dengan mall, dan saat ini mulai betumbuhan bioskop yang saya bilang “bioskop gaul” dimana terdapat berbagai fasilitas seperti internet, café buat nongkrong, suasana dan dekorasi yang begitu wahhh membuat pengunjung semakin betah berdiam-diam lama,,,terus bagaimana nasib pengelola bioskop yang tidak tanggap terhadap kondisi ini?

Danis Puntoadi
Account Director
CreasionBrand

Wednesday, November 22, 2006

Semarak budaya lokal dalam industri hospitality


Siapa bilang eksklusifitas hanya milik karakteristik yang berbau barat-barat saja? Tentu saja tidak, hal ini telah dibuktikan dengan dibangkitkannya kultural murni dalam peremajaan konsep hotel yang tadinya berkiblat pada kemewahan yang diusung nama Hilton International telah berganti menjadi The Sultan Hotel - Jakarta. Perubahan konsep secara dramatis ini dinilai menjadi satu peluang yang menguntungkan sekaligus unik di tengah perhimpitan budaya barat yang terus berkembang dalam industri mal dan perbelanjaan.

Perwujudan konsep Jawa murni ini menjadi satu landasan kuat akan keyakinan kita bahwa minat terhadap pasar budaya lokal tidak pernah kalah dengan budaya luar.Di tinjau dari identitas hotel yang dibangun pada tahun 1976 ini, brand The Sultan sendiri bisa menjadi satu gebrakan besar untuk kemudian diikuti oleh berbagai pihak dalam mengembangkan konsep ke depannya, di mana budaya lokal Indonesia bisa memiliki nilai kultural yang tak tergantikan, because we leave in our own land with our own cultural.

Pengkomunikasian budaya dalam keberadaan brand sehari-hari bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan (berkaitan dengan fasilitas hotel berbintang lima) dan juga bagi para masyarakat lokal yang ingin menikmati keindahan budayanya sendiri.Kemajuan kesadaran masyarakat Indonesia diharapkan akan semakin berkembang, dengan munculnya berbagai konsep brand berbau lokal, dan tentu saja bisa menginspirasi kita semua akan asal dan identitas kita selama ini.

stef_
Creative Director
CreasionBrand

Tuesday, November 21, 2006

POSITIONING IN MY HUMBLE OPINION


Siang lagi iseng membuka yahoo messenger gua bertemu dengan teman kuliah gua. hmm senang sekali rasanya karena sudah cukup lama kami tidak bertemu, dasar orang aneh cewe satu ini, sempat satu tahun lebih menjadi auditor di lembaga audit terkenal di dunia dia memutuskan untuk berubah haluan menjadi wedding organizer. terkejut juga sih ketika dia mengutarakan niatnya beberapa bulan yang lalu. "gila lo, jauh amat banting haluan" begitu kira-kira reaksi gua saat itu.

Tapi sedikit penjelasan darinya gua bisa mengerti kenapa dia melakukan hal tersebut. Klasik, masalah hati. Dia menceritakan bahwa akuntansi bukan panggilan jiwanya dan that's fine. Menurut gua mengapa kita harus memaksakan diri melakukan hal yang tidak bisa kita jiwai dengan hati, hal inipun pernah gua alami beberapa tahun lalu ketika berkerja di sebuah perusahaan.

Nah kembali lagi ke yahoo messenger tadi siang ada hal menarik yang ditanyakan teman gua tersebut yang jujur cukup mengelitik sampai malam ini, dia menanyakan positioning yang tepat untuk perusahaan wedding organizer yang saat ini ia jalankan.

Kalo diperhatikan lebih dalam, positioning merupakan elemen pemasaran yang sangat penting bagi sebuah merek atau perusahaan dalam menjalakan kegiatan bisnisnya. Ntah dalam buku yang mana saya pernah membaca di negeri paman sam sana ada restoran kecil yang sangat ramai dikunjungi orang padahal pesaingnya lebih besar dan berada tepat disebelahnya hanya karena restoran tersebut memiliki posistioning yang sudah sangat melekat di benak orang-orang, murah dan bersih.

Melihat dari contoh sederhana tersebut kita dapat mengerti bagaimana pentingnya sebuah positioning dapat diletakan dengan tepat di benak customer. Sekarang apa sih positioning itu. entah ini bahasa yang tepat atau tidak kalo menurut gua itu adalah janji yang diberikan sebuah merek kepada customernya. That's it. so simple. Jadi kalo kita mengatakan we are number in financial business itu berarti kita sudah berjanji dalam hal apapun kita akan selalu lebih baik dari pada pesaing kita, baik itu dalam layanan, suku bunga bila itu bank, spread index, premi dan sebagainya. mengapa harus lebih baik dalam segala hal dibandingkan pesaing? yah itu tadi karena kita udah janji we are number one in finacial business. Tentu ini cukup ekstrim cuma yah sekedar pengmbaran ajah agar lebih mudah dimengerti.

hmmm jadi teringat ketika menangani satu klien di sebuah industri, sampai hari ini saya tidak tertarik mengambil fee yang menjadi hak saya hanya karena saya sangat kesal mereka tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan customernya dan masalah positioning yang telah saya nasehatkan kepada perusahaan tersebut. Saat itu berdasarkan studi lapangan, analysis berbagai hal saya katakan bahwa lebih baik kita berfokus pada satu terlebih dahulu dan mengambil posisi A si benak konsumen karena belum ada pesaing yang melakukannnya, sedangkan di atribut lain pesaing sudah sangat kuat. Ternyata Ok, semua berjalan sebagaimana mestinya, positioning A di bangun dengan berbagai aktivitas termasuk kampanye periklanan. Namun betapa kagetnya saya tiba-tiba secara sepihak mereka melakukan perubahan yang sangat mendasar yaitu mengganti positioning tanpa bertanya kepada pasarnya yang sudah mulai terbentuk dan saya tentunya. I quit. Itu kalimat yang saya ucapakan, you silahkan jalan, you ga perlu denger kata customer lo kalo emang ga peduli tapi ingat gua bilang suatu hari hakim yang paling kejam itu customer.

Entah berapa banyak perusahaan yang menyepelakan beberapa suku kata ini namun walaupun umur saya masih hijau saya sudah cukup banyak melihat perusahaan yang menghabiskan dananya sia-sia karena mereka tidak peduli dengan hal ini. Semoga hal ini tidak terjadi terhadap perusahaan mantan saya tersebut Amin.

Nah pertanyaan kembali lagi ke depan, bagaimana membuat positioning yang baik. Hmmmm lagi-lagi cerita klien saya membuat saya tersenyum dan memikirkan ternyata banyak sekali petingi perusahaan yang kadang tidak menyadari hal ini. Sudah tahu kelebihan hotelnya karena pemandangan alam yang indah dan sejuk tapi positioning yang di pakai malah mengatakan kami memiliki service yang baik. Pilihan yang sangat-sangat tidak tepat tapi untungnya beliau menyadarinya dan melakukan repositioning. Hal paling mudah menurut saya untuk melakukan positioning adalah menemukan differensiasi yang secara nyata berbeda dengan pesaing kita. Kalo kita mengetahui bahwa hotel kita memiliki pemandangan yang sangat indah yang berasal dari alam dibandingkan hotel lain mengapa kita melakukan klaim misalnya revive by the nature atau back to the nature dan sebagainya. Tentu hal ini terlalu sederhana namun secara sederhana hal tersebut bisa saja dilakukan. Tentu masih banyak hal lain yang bisa menjadi dasar kita dalam melakukan positioning terhadap merek perusahaan kita kepada customer misalnya klaim kategori, klaim pertama dan sebagainya.

Wah tulisan ini memang hanya berbagi sedikit pengalaman dan lebih banyak cerita ngelanturnya tapi relevan (pinjem yah om bud kata-katanya), semoga bisa bermanfaat.

Saturday, November 18, 2006

ANAK INGUSAN DI SARANG PENYAMUN

Rasanya menyenangkan sekali bisa berbagi ilmu dan bertukar pendapat dengan mahasiswa yang magang di kantor. begitu original, fresh dan penuh dengan antusias dalam menjalani tugas belajar mereka sebagai peserta magang. Yah, dalam satu bulan ke belakang di kantor kami memang kedatangan mahasiswa yang ingin belajar lebih banyak lagi tentang branding dan communication strategy.

Ha.....ha kadang ingin tersenyum sendiri mendengar dan melihat semangat mereka untuk belajar padahal mereka baru semester awal kuliah, bahkan ketika bicara vision pun mereka menunjukan raut muka bingung pada awalnya. diskusi mengalir saja seperti air, kami membahas apa itu brand, apa itu mimpi dan mengapa hal tersebut sangat penting bagi sebuah perusahaan atau produk. salut, mungkin ini yang ingin saya ucapakan kepada mereka, mereka cepat sekali mengerti mengenai topik diskusi yang membahas company inspiration yaitu vision, mission dan goals.

Pembicaraan terus saja mengalir sampai pemabahasan core competency perusahaan. berselang, salah satu dari mereka kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat menarik mengenai core competency, "bagaiman kita mengatahui core competency perusahaan kita ka rex?" wah, cukup surprise tentunya buat saya, bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini keluar dari anak ingusan yang tersesat di saran penyamun ha......ha, hebat kamu nak, klien ku saja kadang tidak pernah menanyakan hal ini jika tidak diingatkan.

Okelah untuk menjawab pertanyaan tersebut saya memberikan analogi seorang individu, katakanlah namanya dani. saat ini di dani ingin mengejar seseorang gadis yang amat manis bernama denis, kira2 apa yang harus dilakukan dani pertama kali? Mimpinya jelas, suatu hari pacaran dengan denis, nah berikutnya apa? NGACA dan merenungkan diri sendiri dulu, cakep ga sih gua? kaya ga sih gua? pinter ga si gua? menarik ga si gua? romastis ga si gua? berwibawa ga sih gua?

Pertanyaan-pertanyaan diatas dani renungkan untuk mencari dan melihat potensi dirinya yang paling baik, mencari hal terpenting yang bisa di"jual" untuk menarik perhatian denis. mengapa hal ini (mencari potensi diri sesungguhnya) penting? jelas dong agar tujuannya bisa tercapai, yaitu mendapatkan denis. jika dani melihat dirinya dari sisi wajah standart, kaya engga, pinter engga tapi setia abis, yah disinilah core competencynya, kemudian carilah medianya sehingga denis tau bahwa dani adalah tipe pria setia yang sangat jarang ada di dunia ini tentunya.

Hal ini "setia" akan membuat perjuangan dani memiliki harapan, kebayang ga kalo udah muka pas-pas an, miskin, otak standart2 ajah trus mencoba menembak langsung denis dengan PD nya hasilnya seperti apa? masuk tong sampah, ditolak mentah2, siapa sih lo? dengan core competency setia, dani dapat menunjukan dengan berbagai cara, seperti perhatian dengan dia, membangun awareness diantara teman2 denis bahwa dani orang yang setia "tentunya dengan cara yang baik", kemudian mencoba menjadi teman yang setia, nah mana tau suatu hari denis akhirnya takluk karena ternyata dia mencari tipe yang setia atau dia tersadar yang penting bagi seorang wanita adalah pria yang setia ha.....ha

Kira2 mmm seperti itulah core competency ditemukan, dia adalah bagian yang sesungguhnya menjadi kelebihan utama yang ada atau yang ingin diciptakan, menjadi pegangan dalam persaingan bisnis dan menjadi senjata utama dalam menaklukan pasar. tentu bukan hal gampang dan bukan juga hal yang mudah, merenunglah sesungguhnya hati kita bisa menjawab hal tersebut.

Hah puas rasanya melihat muka mereka nampak mengerti dengan penjelasan yang ala kadarnya ini, kemudian ada yang bertanya "kalo kakak core competencynya apa?" buset dah kenapa jadi gua yang jadi object, hmm menarik juga tuh pertanyaan cuma sudahlah ini bukan ajang memuji diri tentunya ha......ha cukup untaian kata untuk memberitahukan mereka core competency gua namun untaian tersebut tidak perlu diiringi tarian jari di atas laptop ini ha.......ha.

Tidak terasa perbincangan sudah lebih dari dua jam, akhirnya kami harus menyudahi dulu diskusi ini karena saya harus pergi bertemu dengan klien, tentu sajah sebagai anak magang ada tugas untuk mereka, membuat guidelines tentang membuat sebuah nama merek. ha.....ha tentunya saya tidak terlalu berekpetasi berlebihan, hanya berharap mereka terus belajar dan mencari tau walaupun hal ini baru yang pertama buat mereka, pancingnyanya "buku panduan" sudah diberikan, tinggal dalam dua hari ini untuk tugas pertama mereka, mereka harus mempelajari pancing tersebut sendiri.

Sabar nak, tentu kita akan mempelajari lagi 'pancing' tersebut, cuma aku teringat dengan sebuah kalimat, kalau ingin belajar berenang, langsung ajah ceburkan ke dalam kolam renang, ha...........ha kejam sekali.


Rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand

Benci tapi cinta


Hari ini salah satu team branding saya pulang dengan sedikit menggerutu setelah bertemu dengan kliennya, "masa sih pa X katakanlah mau menambah menunya dengan menu yang tidak ada sama sekali hubungannya dengan cafe atau restoran", kemudian saya dengan sedikit mencoba menenangkan bertanya dengan team saya tersebut, "maksudnya?". Kemudian teman saya tersebut meneruskan pemicaraannya dengan mengatakan bahwa kliennya ingin menambah menu bubur yang hanya dibuka dipagi hari karena dia melihat peluang banyak ibu-ibu yang menunggui anaknya sekolah karena kebenaran di depan cafe tersebut ada sekolah.

Hmmmm, saya menjadi tersenyum entah itu senang karena begitu pedulinya teman saya tersebut dengan kliennya sampai marah tersebut atau sedikit sedih karena kenyataan kadang kala apapun yang dikatakan klien sebagai penyandang dana yang jelas-jelas hal tersebut tidak baik bagi brandnya harus tetap dilakukan karena sudah menjadi semacam kalimat perintah.

Realita. seperti itulah kalau semua ingin kejujuran dari hampir sebagian besar pelaku bisnis di bidang branding dan advertising. Pernah suatu waktu saya menolak fee dan mengundurkan diri sebagai brand konsultan sebuah perusahaan karena hati saya merasa sakit bahwa kerja keras yang team saya ciptakan menjadi sia-sia hanya karena keputusan yang maaf kalau boleh saya bilang bodoh, klasik, akhir cerita klien saya tersebut akhirnya berakhir.

Saya kadang berpikir mengapa cukup banyak klien yang menganggap ide dan strategi yang dipaparkan oleh branding konsultannya merupakan hal yang harus didebat dengan berbagai alasan yang terkadang tidak logis yang ujung-ujungnya terjadi penolakan. Di sisi yang lebih ekstrim ada beberapa klien yang merasa sudah benar sendiri dan strategi yang dia ciptakan pasti tepat untuk pasarnya dan apa yang dikatan oleh brand agency adalah sesuatu yang salah walaupun sudah melalui riset dan sebagainya. di perusahaan yang saya tolak agency feenya pun team saya mengalami hal demikian, seluruh hasil yang didapatkan dari consumer insight lewat wawancara ditolak mentah-mentah dengan mengatakan bahwa yang diwawancara itu bukan marketnyalah, emang gua pikirin, ah masih banyak calon customer lain dsb.

Gila nih, saya sampai tidak habis pikir mengapa hal tersebut bisa terjadi, logikanya sangat sederhana customer is your king, jika mereka mengatakan sesuatu tidak secara langsung ke perusahaan berarti dia merasa kecewa dengan perusahaan tersebut. ke depannya jelas sangat gampang di tebak mereka tidak akan pernah datang lagi ke perusahaan anda. kedua, sebagai branding konsultan jelas bukan nilai yang kecil yang harus dikeluarkan untuk membayar team saya, lantas mengapa kita harus bekerja sesuai dengan kesenangan beberapa orang di dalam perusahaan? sebagai professional jelas saya dan team saya akan berbicara sesuai fakta lapangan, apapun itu hasilnya dan tidak peduli hal ini punya akibat apa ke dalam internal perusahaan.

Kalau saja saya mau, saya bisa saja tidak peduli dan mengikuti saja apa yang diinginkan orang perusahaan yang kebenaran incharge bersama saya, tapi hal tersebut jelas bukan sebuah etika yang baik di dalam bisnis jasa.

Ah ini khan hanya keluahan seorang saya, kenyataan yang kerap menghampiri hidup ini, syukur-syukur dibaca dan dimengerti bahwa sebagai brand agency saya dan team saya dari hati yang paling dalam selalu mencoba jatuh cinta dan memberikan yang terbaik bagi semua yang kami cintai.


Rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand

Friday, November 17, 2006

BELAJAR LAGI BODOH!


Hmmm semakin lama hari berjalan semakin banyak rasanya yang telah gua pelajari sebagai pemimpin baik itu bagi diri sendiri ataupun orang lain. tidak ada ilmu yang lebih sulit dari ilmu untuk mengerti tentang manusia karena kita tidak pernah bisa menebak kedalaman hati seseorang dan kitapun tidak pernah bisa menebak dengan pasti apa yang dipikirkan oleh seorang manusia.

Gua kadang sampai tidak mengerti dan kehabisan akal apa yang harus dilakukan dalam menghadapi manusia dengan berbagai jenis hati dan pikiran di kepalanya dan lebih repotnya lagi semua itu harus disatukan untuk sejalan menggapai cita-cita yang diimpikan.

Bosan rasanya mencoba berbagai metode untuk menghadapi semua orang yang ada, marah salah, baik salah, dekat salah, jauh salah, terbuka salah, tertutup salah, akrap salah, tegas salah, dan banyak lagi yang berakhir di kata salah. lantas bagaimana ini? Sebagai pemimpin ada satu hal yang selalu gua pegang dalam menahkodai sebuah kapal yang penuh dengan orang dengan banyak kepentingan yaitu arah atau tujuan akhir perjalanan. ketika di kapal terjadi masalah yang bisa menyebabkan kapal dalam masalah seperti terbakar, bocor, menabrak sesatu karena tetololan, keegoisan, kepentingan dan berbagai macam alasan lainnya yang timbul di dalam benak semua orang yang ada di dalammnya, gua punya kunci simple perbaiki atau LEMPAR saja orang tersebut kelaut, selesai.

Terlihat sangat kasar tentunya apa yang saya kemukan di atas, namun realitanya kita kadang tidak bisa berkompromi dengan semua orang. memang, pendekatan yang kebapaan, kasih sayang dan pendekatan lembut lainya merupakan pendekatan yang paling ideal untuk menciptakan sebuah team yag mampu berkerjasama dengan baik namun lihatlah dulu team seperti apa yang dihadapai dan orang-orang jenis apa yang ada di dalamnya.

Ha....ha kadang teman akrap saya jika sedang berbincang-bincang selalu mengatakan bahwa dari jaman dulu sampai hari ini selalu ada malaikat dan setan di perusahaan ini, maksudnya adalah seorang partner saya dianggap sebagai malaikat karena kebaikan dan kesabarannya dalam menghadapi orang sedangkan bisa langsung ditebak, yah iya gua setannya, alkisah hampir setangah tim inti perusahaan di semester kedua perusahaan ini berjalan gua tendang secara halus, daripada kapal karam mending tending kelaut yang ga berguna. gua ga nyalahin pandangan pribadi teman saya tersebut dalam memberikan julukan untuk kami berdua, tapi lucu juga karena ada malaikat dan setan lah perusahaan bisa menjadi seperti sekarang ini.

Lantas mana yang lebih baik dalam memimpin? ah selalu dengan jawabnya klasik keduanya baik dalam porsinya masing-masing dan buruk dalam porsinya masing-masing, intinya pelajaran buat saya setelah beberapa tahun dipercaya sebagai pemimipin, BELAJAR LAGI BODOH.

Rex_
Strategic Planning Director
CreasionBrand

Wednesday, November 15, 2006


IT's TIME for PURPLE OCEAN

Begitu banyak sumber dan para pakar yang sekarang ini terus menebarkan pemahaman ilmu untuk mencari peluang bisnis baru di area blue ocean atau bisa kita sebut sebagai sebuah pasar yang belum terjamah pebisnis/produk lain. Hal ini memang betul adanya, tetapi sebenarnya ada satu segi yang bisa kita masuki pula selain tetap diam dan terkikis di red ocean atau tergopoh-gopoh mencari modal untuk membuka blue ocean, yaitu the purple ocean.. area di antara red ocean dan blue ocean. Apa maksud the purple ocean?

Secara singkat kita tilik kasus C1000, di mana dia memasuki area pasar the purple ocean itu.. di mana satu area pasar yang jelas-jelas bukan red ocean (jenuh) tetapi telah teredukasi atau telah ada pemain yang lebih dulu membuka pasar blue ocean tersebut. Produk tersebut tentu saja You C 1000. Sebelumnya produk vitamin C cenderung diasumsikan orang lebih mendekati pada kategori obat, di mana bisa kita lihat perihal pendistribusian di berbagai supermarket, produk vitamin C, seperti Redoxon, Vitacimin, dll diletakan berdekatan dengan produk-produk kesehatan dan counter obat-obatan.

Tetapi secara baik sekali You C 1000 memposisikan produk vitamin C sebagai sebuah minuman yang bisa diminum kapan saja, dan menciptakan sebuah lifestyle tersendiri untuk mengkonsumsi vitamin C setiap harinya secara teratur. Dengan adanya penciptaan pasar yang baru, yaitu para masyarakat yang senang mengkonsumsi vitamin C sebagai sebuah minuman ringan (sehari-hari), maka terbentuklah apa yang disebut dengan the purple ocean.

Para konsumen di area ini telah teredukasi dengan baik tentang kategori produk dan menciptakan suatu ketergantungan terhadap penciptaan lifestyle itu sendiri, tetapi belum jenuh seperti di red ocean. Maka dengan terang-terangan, pihak Sido Muncul (SM) mengeluarkan suatu produk sejenis yang memang terinspirasi dari adanya produk You C 1000 (Kesuksesan You C 1000 pun menginspirasi Irwan Hidayat, Presiden Director PT. Sido Muncul, untuk melundurkan produk sejenis – SWA No.23/XXII/2-15 November 2006, halaman 74).

Hal semacam ini di satu sisi menjadi semacam penciptaan produk me too, tetapi dari segi bisnis hal ini merupakan satu kesempatan yang patut untuk dimanfaatkan, karena pasar yang dibidik telah teredukasi dengan baik sehingga tidak membutuhkan adanya pengeluaran budget tersendiri-yang tentunya tidak sedikit- untuk memperkenalkan kategori produk baru. Di lain sisi, pasar di kategori produk tersebut belum jenuh terhadap keragaman produk serupa. Terlebih di antara penciptaan ketergantungan para konsumen terhadap produk sejenis, produk pendatang (dalam hal ini C 1000) bisa menawarkan benefit yang serupa dengan harga yang lebih low. Jadi, bukan mustahil para konsumen berpindah bukan?

Tetapi hal ini tentu saja tidak didiamkan saja oleh You C 1000, karena penanaman brand orisinil dan eksklusivitas tetap bisa mempengaruhi pertimbangan para konsumen dalam mengkonsumsi produk. Jadi, baik bagi pemain pioneer atau pengikut, sama-sama harus memiliki strategi dan pemikiran yang jauh ke depan untuk tetap bisa bersaing dalam menjual produk mereka.

So.. start to think about that other ocean anyway..

Stef_
Creative Director
CreasionBrand