Wednesday, November 22, 2006

Semarak budaya lokal dalam industri hospitality


Siapa bilang eksklusifitas hanya milik karakteristik yang berbau barat-barat saja? Tentu saja tidak, hal ini telah dibuktikan dengan dibangkitkannya kultural murni dalam peremajaan konsep hotel yang tadinya berkiblat pada kemewahan yang diusung nama Hilton International telah berganti menjadi The Sultan Hotel - Jakarta. Perubahan konsep secara dramatis ini dinilai menjadi satu peluang yang menguntungkan sekaligus unik di tengah perhimpitan budaya barat yang terus berkembang dalam industri mal dan perbelanjaan.

Perwujudan konsep Jawa murni ini menjadi satu landasan kuat akan keyakinan kita bahwa minat terhadap pasar budaya lokal tidak pernah kalah dengan budaya luar.Di tinjau dari identitas hotel yang dibangun pada tahun 1976 ini, brand The Sultan sendiri bisa menjadi satu gebrakan besar untuk kemudian diikuti oleh berbagai pihak dalam mengembangkan konsep ke depannya, di mana budaya lokal Indonesia bisa memiliki nilai kultural yang tak tergantikan, because we leave in our own land with our own cultural.

Pengkomunikasian budaya dalam keberadaan brand sehari-hari bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan (berkaitan dengan fasilitas hotel berbintang lima) dan juga bagi para masyarakat lokal yang ingin menikmati keindahan budayanya sendiri.Kemajuan kesadaran masyarakat Indonesia diharapkan akan semakin berkembang, dengan munculnya berbagai konsep brand berbau lokal, dan tentu saja bisa menginspirasi kita semua akan asal dan identitas kita selama ini.

stef_
Creative Director
CreasionBrand

1 Comments:

At 11:21 AM, Blogger zyred said...

B ‘ for Budaya Lokal
Dulu orang yang katanya pintar pernah ngomong dalam suatu pembangunan sebuah brand suatu perusahaan kita bukan hanya mentingin aspek ekonomis, efisien dan efektifitas saja . melainkan mesti juga nekenin pentingnya wawasan kebudayaan dalam mengembangkan brand tersebut sebab hanya dengan pemikiran yang berwawasan kebudayaan itulah akan lahir sebuah kedalaman pemahaman dan dimensi pembangunan brand tersebut akan lebih cepat dan mengakar, siapa yang ga setuju bahwa kehidupan konsumen ga Cuma bias diukur dari sudut ekonomi aja alias pengelompokan ses A, B, C dll aja melainkan juga pentingnya penempatan kebudayaan sebagai ukuran lain yang ga kurang pentingnya yang ga bisa diitung pake sempoa calculator ataupun komputer super canggiah sekalipun.
Sekarang masalahnya apa yang terjadi dengan kebudayaan kita ? sehingga membuat males para creative untuk meliriknya untuk kemudian dibawa sebagai bagian dari materi eksekusi sebuah brand. Biar ga begitu bias kita ambil contoh bagianadri budaya aja ok. musik ya salah satu musiktradisional kita adalah gamelan, serangkaian nada indah yang tak perlu partitur, semua pemain boleh improvisasi kecualai beberapa alat aja kaya gong dan salentem. ada kebebasan individual pada pemainnya sampe yang dengerpun merasa pas dan bisa ngerasain khas masing masing bunyi yang ok.tapi bisalah kita itung berapa sih iklan televisi kita ataupun radion yang melibatkan musik tradisional sebagai sarana eksekusi brand paling cuman 10 persenan ajam Kita ngaca yuk berapa jauh kita kenal dengan musik kita dibanding pada musik modern dan kebarat baratan..
Siapa yang mao disalahin kalo adik, kakak bahkan kita sendiri lupa sama pupuh kinanti, asmarandana ato ama lagu bubuy bulanataupun nama lat musik tradsional kita sendiri. ah masa sih gamelan Cuma bisa berkembang dizaman syailendra dulu aza ? dan siapa yang bertanggung jawab kalo “ kita lupa warna bendera kita sendiri” kaya iwan falls aja emang bikin sedih sih kalo Cuma dipikirin aja mah ya ga…tanapa ada aksi Dario pada creator creaor dan kepedulian yang maksimal dari orang orang periklanan. apalagi gelar budayawan yang menurut saya sendiri mustinnya disandang sama setiap orang termasuk insane periklanan. justru malah hanya satu dari seribu mungkin sejuta dengn uban dan keriput penyandangnnya nah looo salah siapa coba …. Trus siap ga kalo kita bersama sama menjadi seorang duta pelestari budaya kita sendiri… cepetan aha jawab coz pasar bebas udah dekat zyred@plasa.com

 

Post a Comment

<< Home