Wednesday, April 09, 2008

Terima Kasih telah mengunjungi blog kami. Mulai sekarang alamat blog berpindah ke creasionbrand.blogspot.com. Silakan mengunjungi blog terbaru kami untuk mendapatkan update terbaru tentang perkembangan ilmu branding. See You...

Sunday, June 10, 2007


Wacana ini memang sudah lama terjadi, dan terkadang mengusik pemikiran saya. Beberapa waktu yang lalu bertepatan dengan hajatan besar industri periklanan di Bandung, yaitu Layang Kencana, saya dan teman-teman ikut serta menyelenggarakan Seminar yang mempertemukan dua industri yang sebenarnya saling berkaitan seperti selayaknya sahabat karib, tapi nampak tak saling mengenal : Branding dan Advertising itu sendiri – periklanan. Turut mengundang Bp. Sumardy, Om Bud dan Mas Glenn Marsalim.

Waktu hampir menunjukkan pkl 15.00 sore dan acara sebentar lagi selesai, tanpa unsur kesengajaan saya mendengar perbincangan beberapa rekan senior dalam industri periklanan (jangan salahkan saya kalau saya ikut mendengar, masalahnya mereka ngobrol di meja panitia, meja di mana saya memang sedang duduk dan minum air putih). Pembicaraan tersebut antara seorang mahasiswi S2 bidang komunikasi dan seorang tokoh periklanan yang pada waktu itu mewakili tim PPPI dari Pusat – Jakarta. Mereka memperbincangkan mengenai idealisme kosong para mahasiswa desain sekarang ini (dalam hal ini mungkin desain grafis atau yang berhubungan dengan periklanan). Sang mahasiswi S2 itu mengatakan bahwa ia sangat bingung, karena semakin hari mahasiswa desain semakin besar kepala dan memiliki idealisme yang mencerminkan egoisitas diri sendiri. Bahwa mereka yang bisa diakui memiliki talenta yang maksimal dalam hal desain sama sekali tidak memahami makna sebuah komunikasi. Secara garis besar dan nyata bahwa mereka hampir tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Makna-makna dasar komunikasi hampir tidak dikuasai sama sekali, antara lain perihal copy yang menyampaikan pesan, layout yang mudah dipahami dan yang paling mendasar adalah tujuan iklan itu dibuat. Lalu ia melanjutkan dengan berbagai keluhan lain bahwa mereka hanya mementingkan keindahan desain dan kreativitas yang dipaksakan. Lantaran sang mahasiswi terus berceloteh.. sang praktisi periklanan diam saja.. lalu tidak lama kemudian akhirnya menyambung dengan berbagai teori (yang kalau tidak salah dengar, tertulis di dalam buku terbitannya…..) bahwa komunikasi adalah inti dari semua hal tersebut, dan mahasiswa sekarang memang belum menguasai itu. Ia berpendapat bisa jadi tim pengajar tidak menanamkan hal tersebut secara benar.

Ya.. saya hanya mendengar sepotong dari pembicaraan mereka, dan setelah 2 minggu, yaitu hari ini, saya masih terusik dengannya. Saya sama sekali tidak memihak karena saya juga bingung harus memposisikan diri di sebelah mana, karena saya memang bukan keduanya. Saya bukan mahasiswa desain dan saya bukan praktisi periklanan. Tapi selama lebih dari 2 tahun berkutat di bidang branding, saya juga jadi ingin berkomentar. Memperhatikan perilaku peserta seminar yang diadakan waktu itu, yang sebagian besar adalah mahasiswa desain dan periklanan, mungkin wacana sang mahasiswi S2 ada benarnya. Setelah sempat ngobrol2 dengan beberapa peserta untuk menanyakan kritik dan masukan, mereka sepakat bahwa pembicaraan awal berkaitan dengan branding sangat berat dan rasanya bukan dunia mereka. Sedangkan pembicaraan berikutnya berkaitan dengan industri kreatif periklanan sangat menyenangkan dan memang “dunia” mereka. Terlintas di pikiran saya.. apakah branding sama sekali sampah yang membosankan buat mereka? Lantaran branding lah proses paling dasar yang harus dimengerti apabila ingin menguasai industri komunikasi, karena komunikasi adalah bagian dari branding dan iklan adalah bagian dari komunikasi dan desain adalah bagian dari iklan. Apakah pemetaan ini tidak tergambar di pikiran mereka? Ya mungkin kalau ternyata tidak, saya setuju dengan perkataan sang tokoh PPPI Pusat itu, kalau tenaga pengajarnya mungkin tidak menanamkan itu secara mendalam.

Haha.. akhirnya kalimat yang selalu saya ingat dari cuplikan pembicaraan mereka, kata sang mahasiswi S2 “Ya.. jangan ngedesain kalau ga ngerti esensinya, mana kalau dikritik ngomel lagi, mereka bilang saya ga ngerti desain!! walahhhh… “

Stef_

Gimana donk kalo ga punya budaya?!??!?

Sedari dulu budaya selalu menjadi bagian dari aktivitas komunikasi, tetapi dulu sempat ada jamannya bahwa internasional jauh lebih keren dan bonafit dibandingkan lokal. Tapi sekarang ini penghargaan terhadap budaya lokal sepertinya lebih diperhatikan. Sebut saja Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta) dan Suara Merdeka (Jawa Tengah) yang sangat getol berkomunikasi dengan caranya sendiri (baca:kedaerahan). Berbagai pola pikir dan kebiasaan masyarakat menjadi ide dasar penyampaian informasi dan perluasan image yang ingin ditampilkan. Hal ini sungguh baik adanya dan memicu daerah lain untuk juga menghargai budaya lokal. Tapi bagaimana dengan Jakarta? Apa budaya betawi masih diakui sebagai budayanya Jakarta? Lantaran penduduk betawi di Jakarta sekarang tinggal 0,00 sekian persen?!??!!?

Budaya muncul dari masyarakat daerahnya sendiri, beruntunglah Yogyakarta, Surabaya, atau bahkan Bandung masih memiliki satu budaya yang kental. Lantaran Jakarta, bad to say that Jakarta has no culture. Di Jakarta semua orang dari segala daerah ada. Dan semuanya tidak dalam jumlah yang banyak atau sedikit, benar-benar campuran budaya.. campuran orang.. campuran kebiasaan dan tidak punya identitas. Siapa yang mau dipersalahkan? Bapak yang sebentar lagi lengser? Atau masyarakat betawi yang hilang entah kemana? Ya tidak ada yang bisa dipersalahkan. Jakarta telah menciptakan budaya barunya sekarang. Budaya itu bernama apa, saya sendiri belum benari untuk mengkategorikannya. Tapi masuknya budaya internasional sungguh tidak dapat dibendung, saya rasa kata yang cocok : budaya konsumerisme. Karena di sana sepertinya individu diperbudak oleh produk. Produk-produk yang pandai untuk mengambil hati banyak orang. Satu wacana lagi untuk dipikirkan terutama bagi mereka yang merasa menjadi penduduk Jakarta, apa yang unik dan unggul adalah yang mampu dijadikan sebagai the point of sales sebuah daerah. Maaf, kali ini saya tidak bisa membantu, karena saya sudah memutuskan untuk hengkang dari kota metropolitan yang kanibal itu.. selamat mencari jati diri Jakarta!!

Stef_

Wednesday, June 06, 2007

Maafkan Kami


Buat temen-temen yang melihat blog ini, kami mohon maaf bila baru sekarang bisa di update lagi karena problem dari internet provider kami. Hampir satu bulan lebih ini aktivitas internet kantor kami hanya bisa YM dan mengecek email tanpa bisa melakukan kegiatan lain seperti membuka blogger, attachement dan sebagainya.

Benci pada rasa pertama


Beberapa minggu yang lalu saya memperhatikan ada sebuah restaurant baru yang sangat gencar berpromosi, dengan mengusung konsep makanan khas pulau A katakanlah, hampir setiap sudut jalan dipenuhi oleh spanduk-spanduk restaurant tersebut. Entah kebenaran atau tidak penggunaan warna dari promo mereka mirip sekali dengan warna 3 yang saat itu juga sedang gencar berpromosi sehingga yah mau tidak mau mata ini sedikit terganggu untuk membaca promo mereka.

Hmm setelah membaca iklan restaurant tersebut saya jadi tertarik untuk berkunjung ke sana, lumayan nih pasti lagi murah karena baru buka dan lagi pula ini semua makanan pulau saya yang sangat saya cintai menu-menunya.

Ketika sampai di sana ternyata tempatya cukup bagus dan cocok buat penikmat konsep seperti saya dan teman-teman, yah singkatnya kita masuk dan pas saya dengarkan percakapan orang-orang yang datang memang rata2 mereka sepertinya dari pulau yang saya maksud karena bahasanya rada-rada aneh.

Nah ini dia nih, setelah masuk dan melihat-lihat makanannya KOK tidak seperti yang terbayang yah? ini sih mending makan di tempat yang udah biasa kita makan, lebih lengkap lagi. Intinya nih tempat naggung banget bila dibandingkan dengan pesaing-pesaingnnya. let say dia claim rajanya makanan JAWA, nah mau makan nasi rames khas sunda menunya nanggung dan kurang lengkap, mau makan khas yogya ga ada gudednya, mau makan khas cirebon ada menu yang harusnya ada eh malah ga ada, intinya differensiasi tempatnya nanggung banget.

but, ok lah minimal saya masih bisa menyicipi makanan khas daerah saya yang sangat nikmat bila ibu saya yang memasaknya. Di sisi lain teman saya mencoba makanan khas daerah lain yang jika kita makan di daerah dago bandung makanan ini enak sekali. Hasilnya rasanya sangat mengecewakan, mirip ajah enggak rasanya dengan yang asli, yah karena saya orang daerah tersebut tentu saja saya bisa merasakannnya. Yah sudahlah. Pas Bayar nih, astagfirullah, mahalnya ga ketolongan, jujur saja harga segitu kalau saya makan ke neo calista, cafe denga konsep paling unik di bandung, kabarnya dikerjakan oleh arsitek ternama di bandung, saya tidak akan protes, makannnya enak, tempatnya keren dan rasanya ok.

Bener-bener deh lengkap penderitaan hati gua dan teman-teman, sampe-sampe nyumpa2 ga akan pernah deh gua balik ke tempat itu lagi.

Apa sih yng bisa dipetik dari sisi marketingnya? Pertama okelah secara segmentasi mereka cukup kreatif membidik fanatisme orang daerah terhadap makanannya, walaupun saya kurang tahu juga apakah marketnya cukup besar untuk dijadikan opportunity karena kalau saya perhatikan investasi yang digelontorkan cukup besar. Dari sisi positioning juga oke lah, tempat di mana kita bisa menemukan heritage makanan pulau yang kalau ke tempat-tempat yang fokus let say ikan sulawesi misalnya kita tidak bisa menemukan sambal manado.

Apa cukup? no, itu baru konteks strategy, masuk ke dalam tataran taktik nih tempat mulai amburadul, differensiasi makanan ternyata tidak unik, harga tidak valueable dan tidak transparan, product ga ok (seperti asal ada ajah sih kalo buat saya dan beberapa teman-teman) selain rasanya yang pas pas an (saya sempat tanya beberapa orang), dan porsi sedkit sekali.

Inilah repotnya kalo seseorang kecewa terhadap sebuah produk, kalo diem sih ga apa-apa, paling ga akan balik lagi menkonsumsi produk tersebut, nah kalo ngoceh (ngomong) yang paling gawat, semua orang diceritain, di hasut biar tidak datang dan ini pasti dilakukannya ke banyak orang. Memang repot juga sih mendirikan restaurant, banyak sekali faktor yang harus diperhatikan secara detail dan membutuhkan inovasi yang terus menerus dari berbagai sisi sekaligus juga menjaga konsistensi dan beberapa faktor lainnya, hanya saja jika ini tidak dilakukan tentunya hal yang paling gampang terjadi yah rugi atau tutup pada akhirnya.

Alkisah, saya masih sering lewat tempat tersebut dan yah betul SEPI,
entah berapa lama lagi mereka akan bertahan, semoga managemetnnya menyadari dan cepat cepat mereposisi tataran taktik mereka dan merai sukses ke depannya.

Wednesday, April 18, 2007

ABCD, Aduh Boo Capek Deh

Hari sabtu siang sembari mengujungi klien yang kebenaran tokonya buka di mall saya iseng-iseng mencari makanan di sebuah mall, lagi pula memang sudah saatnya memnajakan diri dengan makanan di hari sabtu, pikir saya.

Setalah merenung renung akhirnya saya memutuskan untuk makan di Foodcourt BSM. Di sana saya melihat ada sesuatu yang sangat menarik pikiran saya, saat itu saya ingin sekali makan Mie Hot Plate jadi saya memutuskan untuk mencari tempat yang menjualnya. Ketemu Yammie dan saya harus masuk anterean baris yang cukup panjang untuk mendapatkan menu yang saya inginkan. Sudah bisa ditebak tentunya apa yang saya lakukan, KELUAR dan CARI TEMPAT LAIN, karena saya tidak tega membiarkan perut saya menuggu terlalu lama. Dua toko dari Yammie saya melihat toko Mie X dan saya pun memutuskan untuk membeli makanan di sana. Namun saya sangat terkejut begitu melihat menu yang ditawarkan, hampir sama persis dengan Yammie dan yang membuat saya lebih terkejut lagi yang membeli ternyata berbanding terbalik sekali dengan Yammie, kalo di Yammie kita harus ngantri di sana ngak perlu sama sekali, wong pas saya lagi beli di situ tidak melayani pesanan, baru setelah itu ada lagi yang pesan, ya satu dua oranglah dalam beberapa menit.

Setelah memesan mie X saya pun duduk dan menikmati mie tersebut dan ternyata rasanya enak sekali, saya jadi melamun kok bisa sepi ya, akhirnya saya menyempatkan diri untuk melakukan pengamatan dan perenungan sesaat.

Nih dia nih hasil THINKnya pertama warna dari design toko tersebut sangat-sangat tidak menarik dan cenderung kaku, dalam buku 22 Immutable Law of Branding karangan Al Ries dan Laura Ries, warna putih yang menjadi background Mie X jelas-jelas menyalahi prinsip hukum branding yang ke 17 yaitu hukum warna. Al Ries mengatakan bahwa suatu merek harus menggunakan warna merek yang berlawanan dengan merek pesaing. Sederhana dan nampak tidak penting sepertinya, tapi menurut saya inilah yang diabaikan oleh Mie X dalam menghadapi persaingan. Bila Yammie mengambil warna merah untuk mereknya, saya sangat menyarankan warna biru menjadi warna yang seharusnya dipakai oleh Mie X tentunya dengan design yang tepat daripada warna hijau dengan background putih yang mungkin tidak akan menarik untuk dipandang mata minimal pada pandangan pertama.

Kedua, design toko. Saya menanyakan hal ini pada tiga orang dan ketiganya menjawab tidak dengan tiga alasan yang berbeda pula. Yang pertama menjawab kuno, kedua menjawab konsepnya ngak jelas dan ketiga menjawab ngak menarik. Saya sendiri kalau boleh jujur ingin mengatakan designnya aneh dan tidak menarik. Nah loh, ini tentu sangat berbahaya karena orang sudah mulai bermain dengan persepsi kalau sampai hal ini tidak segera dibenahi saya kok punya keyakinan ya Mie X ini akan ditinggal konsumen biar pun rasanya enak setelah dicoba.
Ketiga, nama merek. Saya hampir lupa ada sesuatu yang unik di toko tersebut, judul Tokonya Mie X tapi di dindingnya ada tulisan Kafe XX dan ternyata di tissunya pun tulisannya Kafe XX. Jadi apa ya kira-kira nama merek toko tersebut. Saya pikir secara teknis menampakan umbrella brand di tempat sesempit itu bukan keputusan strategis yang tepta tentunya. Hal ini tidak menjadi perhatian yang terlalu penting mungkin bagi pemilik toko ini, tapi saya hanya ingin mengingatkan tujuan dari sebuah pemasaran adalah merek dan profit yang sustainable, hal ini mungkin tidak akan ada pengaruh untuk jangka pendek tapi hati-hati untuk jangka panjang kita tidak akan tahu tantangan, pesaing dan perubahan seperti apa yang akan anda hadapi.

Terakhir, pelayanan. Saya tidak habis pikir ketika teman saya ingin memesan menu yang sama dengan saya, dia harus menuggu sampai tiga menit lebih karena yang melayani sedang NELEPHONE. Gile, bank aja hampir kaga berani kaya gitu eh nih lagi yang jual makanan. Saya tidak tahu apakah pelayanan tersebut memang lagi benar-benar sangat penting untuk nelephone atau memang nga dikasih training bagaimana melayani dengan baik, namun yang pasti pelayan merupakan faktor yang amat sangat penting dalam sebuah bisnis makanan siap saji dan kalau sampai hal ini diabaikan, saya pikir hukuman oleh konsumen yang tidak puas akan membuat kita menangis di kemudian hari.

Ah, dasar kurang kerjaan, bukannya berlibur malah mengkritik usaha orang abis gitu ajaha masih aja ada yang ga ngerti, aduh boo capek deh. Yang beginilah mungkin nasib seorang brandist, I sleep, eat, and ………. With brand. What ever I think, I think brand.

Ferrari dan Inul “NGEBOR”

Ketika pertama kali ingin mendirikan perusahaan, membangun merek yang kuat adalah pikiran yang benar-benar sangat mengganjal saya. Kadangkala di Indonesia in aneh juga, begitu banyak orang yang mendirikan perusahaan tanpa banyak berpikir strategis, asal punya tempat, sedikit keahlian dan punya uang langsung mendirikan perusahaan. Tidak salah memang, namun di jaman dimana barometer persaingan sangat sulit sekali di ukur, hal ini akan menjadi sangat tidak efisien tentunya dan kadang hanya menghamburkan uang.

Membangun merek? Mungkin itu menjadi pertanyaan anda semua ketika membaca tulisan saya ini. Lazimnya ketika orang ingin membuka perusahaan sendiri, yang menjadi pikiran mereka biasanya adalah sulitnya mendapatkan modal, sumberdaya yang terbatas, tempat yang tidak strategis dan sebagainya. Tidak salah memang, namun sebenarnya hal yang lebih penting dari semua itu yang seharusnya menjadi pikiran setiap orang yang ingin menbangun perusahaan adalah bagaimana ia membangun mereknya.

Pada dasarnya bila membangun merek bisa dilakukan dengan baik dan berhasil, modal tentunya tidak akan menjadi masalah yang terlalu krusial, pengusaha atau bank mana yang tidak tertarik untuk mengelontorkan dananya untuk perusahaan yang punya merek bagus yang biasanya identik dengan total konsumen yang baik.. Sebaliknya, jika kita punya modal yang kuat dan besar, tanpa didukung oleh merek yang kuat dan baik akan menjadi hal yang sia-sia.

Berhetilah sejenak bekerja dan jernihkanlah pikiran anda, sesudah itu bertanyalah kepada diri anda, “MENGAPA SAYA HARUS MEMBANGUN MEREK SAYA?” Saya percaya sekali motif orang membeli mobil Ferrari yang berharga di atas 3 milliar jelas bukan karena fungsinya sebagai alat transportasi melainkan karena dorongan emosionalnya. Lantas mengapa Ferrari, ya karena gengsi, asosiasi Ferrari yang berhubungan dengan kemewahan dan sebagainya. Kemudian bagaimana semua itu bisa terjadi? Mengapa Ferrari? Bagaimana Ferrari bisa melakukan itu semua? Membangun merek adalah jawaban yang paling logis untuk itu semua. Tanpa aktivitas membangun merek, Ferrari mungkin akan hanya menjadi peramai di pasar mobil atau mungkin malah bangkrut karena harganya terlalu mahal, jadi jelas sekali karena aktivitasnya membangun mereknyalah Ferrari menjelma menjadi mobil yang sangat diidam-idamkan.

Itu contoh Italy gimana dengan di dalam negeri kita sendiri, Inul “NGEBOR” Daratista adalah contoh bagaimana merek dibangun dengan baik. Coba pikir, berapa lama sih anda baru tahu tentang Inul, paling lama juga enam bulan, tapi coba tanya setiap orang yang bertemu dengan anda, baik itu anak-anak, dewasa, ataupun kakek-kakek apakah mereka tahu dan kenal dengan Inul, saya yakin mereka pasti tahu dan saya juga yakin bahkan mereka bisa memperagakan “NGEBOR”nya Inul dengan semangat.

Dulu, siapa yang kenal dengan Inul? Biarpun tahu, paling banter Inul terkenal hanya seperti artis dangdut kampung lainnya yang menghibur masyarakat kelas bawah dengan bayaran yang kecil pula tentunya, goyangnya pun sebenarnya biasa saja, dibandingkan dengan artis Amerika Latin tentu soal erotis Inul masih kala jauh dan suaranya bisa dibilang pas-pasan. Lantas mengapa tiba-tiba Inul meledak dan menjadi begitu terkenal “NGEBOR”nya, diidolakan banyak orang walaupun sempat terdapat banyak protes, menjadi bintang iklan, duet bersama Krisdayanti, Las Kethcups, bermain dalam film dan terakhir masuk dalam Times Asia? Saya melihat inilah hebatnya pemasaran dan orang pemasaran yang ada dibalik Inul yaitu manajernya. Manajernya tahu benar agar menjadi artis yang seperti sekarang ini membangun merek adalah sebuah pekerjaan yang maha penting bagi seorang Inul, suara pas-pasan, phically juga biasa, ya selling point yang dibangun “NGEBOR”nya dan ternyata laku dijual. Sekarang merek Inul demikian menjual dan terkenal, uang datang dengan sendirinya, publisitas menaungi kehidupannya, tinggal bagaimana pekerjaan kedua setelah membangun merek yaitu memelihara merek bisa dilakukan dengan sama baiknya oleh Inul ketika ia membangun mereknyaYah tentu setelah merek terbangun, palagi dalam waktu yang relative cepat harus bersiap siap melakukan berbagai aktivitas branding lainnya agar merek Inul terus bisa di jaga, jika tidak yah tentu bersiap-siap untuk di geser merek baru. Susah juga sih kalo artis, masalah umur dan penampilan jelas menjadi selling point yang sangat penting. Saya tentunya tidak bermaksud membahas ini lebih dalam karena saya bukan konsultan dari Inul tentunya (-:.

Dari contoh di atas kita dapat melihat bahwa membangun merek yang kuat pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan bagi kita di pasar. Namun, seperti lazimnya teori, dibalik hikmah tentu selalu ada kesulitan yang menghadang. Membangun merekpun demikian, banyak hal yang menjadi perhatian kita dalam menjalankannya, Force Change, sumber daya perusahaan, situasi persingan dan sebagainya, bahasa kerennya SWOTnya internal dan eksternal. Belum lagi budaya yang kita anut dan sebagainya. Tetapi, contoh-contoh keberhasilan perusahaan yang membangun mereknya tentunya cukup bagi kita untuk memulai membangun merek kita, baru ataupun merek yang sudah ada. So mari mulai sekarang. Sedikit demi sedikit.

Rex Marindo

Noraknya orang Indonesia

Dalam menyusun sebuah strategi berbisnis, kita diharuskan untuk mempelajari secara mendasar perilaku dan karakteristik masyarakat yang kita targetkan menjadi pihak konsumen. Hal ini sepertinya cukup dilakukan oleh beberapa restoran yang menggunakan konsep baru. Pertama kalinya restoran seafood berkonsep baru ini buka di Metro Marina, Jakarta. Sebenarnya benar-benar tidak ada yang spesial dibandingkan dengan seafood lain, hanya saja beberapa titik berat “hal aneh” diciptakan sebagai pemicu word of mouth yang timbul di masyarakat. Di antaranya adalah para waiter nya yang menggunakan PDA sebagai alat pencatat dan yang kedua adalah persepsi harga murah yang diciptakan, apabila kita melihat ke daftar menunya memang harganya di bawah standar restoran seafood, tetapi setelah makanannya datang, rasanya ya memang sebanding, dari hal rasa dan porsi memang dengan harga lebih rendah tersebut menjadi masuk akal. Tetapi yang bisa menjadi keunikan lagi adalah harga minumnya yang rata-rata di bawah 500 perak dan boleh nambah sesukanya. Hari gini ada yang harganya 150 perak.. kapan lagi…… walaupun cuma ternyata cuma karena es the yang boleh nambah-nambah terus, orang jadi lupa bahwa makanannya sedang-sedang saja dan porsi nya nga banyak. Keberhasilannya? Restoran tersebut menjadi pembicaraan banyak orang dan masuk liputan TV. Karena orang Indonesia sangat gemar hal-hal baru alias norak jadi nga gaul kalo nga coba yang lagi pembicaan orang banyak.

Restoran serupa dibuka di kota Bandung dengan brand nama yang berbeda, dengan konsep yang sama percis. Sama seperti di Jakarta, tapi kota Bandung adalah kota yang lebih kecil dan karakter orang nya lebih “ndeso” jadi tingkat ke “norak”an –dalam arti yang positif- jauh lebih besar. Restoran tersebut merap keuntunga di bulan-bulan awal openingnya. Tetapi waktu berjalan tanpa adanya peningkatan inovasi yang berarti, malahan kualitas dirasa menurun, dari perihal servis yang sepertinya tidak support karena terlalu banyaknya pengunjung, serving time yang lama dan suasana restoran yang tidak karuan ramainya membuat orang kurang nyaman dan kembali berpikir mengenai value yang didapatkannya. Terlebih tersiar kabar bahwa harga beberapa item memang dinaikkan. Jadi seperti apa nasibnya nanti kita lihat saja. Yang jelas, controlling dan inovasi sangat diperlukan terlebih pada saat bran tersebut sedang dibuai oleh kejayaan nya; diferensiasi yang sudah sangat bagus yang dibangun pada awalnya malahan bisa terlupakan sama sekali. Memang terkadang masyarakat –selain norak- juga mudah mengingat yang buruk saja, ya.. begitulah orang Indonesia, seperti saya dan anda!

Berganti baju menjadi diri sendiri


Ada beberapa tujuan dalam mengganti sebuah package produk. Salah satu yang dilakukan Hi-Lo beberapa waktu lalu memang tidak kita ketahui bila diperhatikin secara seksama. Seperti produk-produk Tropicana Slim lainnya, strategi yang digunakan serupa, yaitu pada awalnya brand baru yang keluar diberi awalan Tropicana Slim, karena memang the umbrella brand nya sudah sangat kuat dan memiliki brand equity yang baik, baik dari segi produk maupun perusahaan. Lalu lambat laun dari brand-brand kecil yang terlahir, mereka menginginkan brand tersebut lepas dari embel-embel Tropicana Slim dan menjadi besar secara mandiri, yang ke depannya diharapkan bisa sebesar Tropicana Slim dan punya sub brand lagi dan seterusnya. Tetapi memang hal ini sangat tidak mudah dilakukan, konsistensi akan visi perusahaan yang sedari awal basic pada kesehatan menjadi komitmen tersendiri dan dipandang positif oleh masyarakat.

Hal ini yang terjadi pada pergantian packaging Hi-Lo beberapa waktu lalu, yaitu hilangnya simbol Tropicana Slim secara dominan, hal ini dilakukan dalam waktu yang tepat, karena awareness Hi-Lo sudah sangat baik, hasil dari kerja keras konsistensi komunikasi di berbagai media above the line. Hi-Lo menjadi brand yang telah familiar di telinga masyarakat, sehingga ia berani untuk melepaskan atribut Tropicana Slim. Dengan desain yang lebih berani dan lebih “jualan” sepertinya Hi-Lo siap menghadapi banyaknya pesaing di bidang yang sama.

A very bad service

Beberapa hari yang lalu saya sempat menjalani hari yang sangat buruk. Setelah pergi ke berbagai tempat bertemu dengan beberapa klien, akhirnya saya dan teman saya memutuskan untuk makan di mal saja dibandingkan harus kembali ke kantor dan menemukan bahwa makanan cateringnya sungguh sangat membosankan. Akhirnya kami memutuskan makan di mal di daerah Padjadjaran. Di sana kami memutuskan makan di food court saja supaya bisa sambil memperhatikan sana-sini, siapa tahu dapat inspirasi di hari yang sangat melelahkan itu. Lagi-lagi akhirnya kami memutuskan makan junk food saja dengan harapan harga yang reasonable untuk makanan yang yahh.. reasonable juga.. tapi ternyata tidak disangka-sangka walau ini kejadian yang sangat biasa sih.. seorang mbak melayani kami have a very bad attittude. Sebagai seorang front liner menjadi BT bukan alasan. Tepatnya kami nga tau sih kenapa dia berperilaku sangat jutek, sedang bad mood atau apa, tapi yang jelas dia bersifat sangat ketus dan apalagi tersenyum, jangan harap deh. Lalu saya sempet bertanya kepada teman saya, a bad attitude dari seorang waiter bisa berpengaruh nga ya terhadap kekuatan brand Mc* (ups..) ?!? ya kata dia bisa aja kalau kita orang terkenal dan menyebarluaskannya. Tapi setelah saya pikir-pikir tentu saja bisa, contohnya ya saya sendiri; selain pada dasarnya saya memang tidak suka makanan di sana, karena menurut saya masih ada junk food yang lain yang rasanya lebih cocok di lidah saya; sekarang saya tidak hanya tidak akan datang kesana karena makanannya tetapi karena image buruk yang sudah saya terima. Apabila ada 20 orang saja yang mbak itu layani dengan sikap seperti itu pada hari itu, maka ada 20 orang yang bersepsi buruk terhadap brand, lalu masing-masing akan curhat ke teman dekatnya minimal satu orang yang berarti 40 orang pada hari itu, dan apabila mbak itu bertugas masuk 20 hari pada bulan itu dan dia merasa masih in a bad mood brarti akan ada 800 orang yang bersepsi buruk terhadap brand tersebut. Dan lebih parahnya lagi apabila ada 20 waiter lainnya yang bersifat seperti mbak itu.. walah walah.. sudah menyebar ke mana-mana, itu baru kalau orang yang disikapi buruk hanya berbicara pada 1 orang saja, belum-belum kalau orang seperti saya yang menyebar-nyebar di blog sana sini.. hehe.. ya service memang penting, terlebih karena ia bersinggungan langsung dengan para customer yang memang.. sensitif.

Alkisah si aji mumpung…

Dalam kategori tertentu satu brand sangat mungkin bersifat sangat mendominasi. Sebut saja Coca Cola atau Starbucks. Siapa yang tidak kenal kedua brand tersebut? dan tanpa harus menyebutkan embel embelnya semua orang tahun Starbucks menjual kopi. Tetapi bukan tidak mungkin sebuah brand yang sudah sangat besar kehilangan kendali pimpinannya, hanya saja cara menanganinya harus tepat dan didukung sumber daya dan waktu yang tidak sedikit. Karena hal inilah yang dilakukan Coca Cola pada jamannya ia mengalahkan 7Up. Sebelum Coca Cola, selama 28 tahun 7Up merajai minuman ringan bersoda. Tetapi hal yang dilakukan Coca Cola sebagai the counter brand tepat dan didukung sumber daya yang maksimal, akhirnya dalam kurun waktu yang juga tidak sebentar Coca Cola berhasil mencapai posisi puncak.




Kira-kira apa saja yang bisa menjadi kriteria pemilihan sifat counter brand supaya mampu menandingi the big brandnya? Tidak lain adalah diferensiasi yang mencolok. Sekarang sering kali kita menemui berbagai macam me too di mana-mana, dari BreadTalk yang ditiru habis-habisan dari mulai seragam penjualnya sampai bentuk roti atau sekedar piring belingnya. Ada juga yang menggunakan brand J.Do dengan anak kecil menampang di signage nya; dan banyak lagi. Tapi mau sampai kapan konsep me too dijalani? Hal-hal seperti ini hanya akan memperkuat the big brand, karena konsep serupa ikut di sebarluaskan oleh para me too, sedangkan masyarakat tetap tahu yang asli dan patut dikunjungi yang mana. Diferensiasi adalah nilai mutlak berdirinya counter brand.

Apabila anda melihat bahwa di J.Co donatnya berbentuk bulat, maka ciptakanlah donat bentuk segitiga; apabila gaya internasional yang dianut, pakailah gaya Jawa sebagai aksen interior; apabila warna dominan mereka orange, pakailah warna dominan yang lain; sehingga secara sadar masyarakat membedakan dan bisa memberi berbagai persepsi positif bahwa brand anda keluar dengan karakter brand anda sendiri. Jadi jangan asal jiplak dan membuang dana investasi pada sesuatu yang tidak orisinil. Aji mumpung hanya bersifat sementara, namanya juga mumpung……

Stef_

Kecantikan dan keseksian fungsi PR

Mungkin terkadang kita sempat bertanya-tanya di benak kita masing-masing, apa yang membuat sebuah brand J.Co sebegitu terkenalnya, BreadTalk, Starbucks atau bahkan Rumah Mode. Sedangkan tidak pernah sekalipun anda lihat mereka beriklan di TV. Hal ini yang seringkali sebuah perusahaan melupakannya. Tidak lain keterkenalan mereka adalah peran dari PR atau public relations. Sebuah peran PR belum tentu harus dijabat oleh seorang wanita cantik nan seksi yang pandai melobi klien, lebih atau bahkan kurang dari itu yang terpenting adalah perannya. Siapapun bisa menjadi seorang PR dalam perusahaannya. PR tidak hanya sebatas jabatan tetapi sebuah konsep komunikasi. Seorang owner bisa menjadi PR bagi perusahaannya, hal ini yang dilakukan sebagian brand lokal yang saya sebutkan di atas. Seorang Satpam sekalipun bisa menjadi PR yang baik asalkan ia mengenal betul konsep peran serta PR kepada konsumen.

Dengan begitu banyaknya media yang tercipta setiap harinya dari yang konvensional hingga yang sangat ambient, terkadang peran PR menjadi dilupakan begitu saja. Apabila jabatan PR ada di dalam perusahaan, tugasnya tidak lain adalah menjadi perpanjangan tangan iklan atau seperti iklan berjalan. Sebenarnya konsep PR tersebut sama sekali salah. Seperti juga kata Al Ries dalam bukunya The Fall of Advertising and The Rise of Public Relations, PR memiliki perannya sendiri dalam proses komunikasi, dan apabila ingin dibandingkan peran komunikasi PR ini efeknya jauh lebih besar karena tidak bersifat pasif atau hanya dari satu sisi. Apabila kita lihat konsep komunikasi sebuah iklan sebenarnya pasif dan konsumen cenderung sudah skeptis terhadap berbagai penawaran yang ada, karena hanya berasal dari pihak ketiga dan “pasti hanya mencari untung”. Sedangkan komunikasi dari pihak PR bisa menjadi pendekatan yang smooth dan membuat orang untuk berpikir dua kali.

Sehingga pada dasarnya PR dan iklan adalah fungsi komunikasi yang sangat berbeda. Iklan bersifat satu arah dan menginformasikan berbagai keunggulan produk baik yang bersifat inovatif atau bila dibandingkan dengan produk lain. Sedangkan PR berfungsi untuk selalu merespon tanggapan baik negatif maupun positif dari masyarakat. PR bertanggung jawab untuk selalu menjawab dan memberi feed back, terutama pada keluhan-keluhan yang dirasakan masyarakat. Maka dari itu fungsi PR harus selalu tanggap dan kreatif dalam memberikan solusi masalah sehingga rumor yang kurang benar terhadap produk tidak begitu saja menyebar dengan cepat. Ada satu contoh kasus yang bisa jad disebabkan oleh adanya kegagalan fungsi PR. Kasus Mizone beberapa waktu yang dikatakan mengandung Natrium Benzoat yang berbahaya, tidak diantisipasi oleh fungsi PR secara cepat, mungkin juga karena ia asik beriklan above the line. Konferensi pers yang pada akhirnya diadakan sempat memberi selang waktu yang lama dengan tersebarnya isu membahayakan baik di media cetak atau internet. Pada selang waktu tersebut masyarakat sudah terlanjur berpersepsi bahwa hal itu benar karena tidak adanya bantahan secara langsung. Fungsi PR antara lain menangani hal-hal seperti ini, beda dengan VitaZone yang pandai memanfaatkan peluang, fungsi PR nya mengkomunikasikan dan menyebarkan berita serta rincian ingridients produk bahwa VitaZone tidak mengandung bahan pengawet sama sekali.

Jadi jangan lupakan fungsi yang satu itu di dalam perusahaan, karena bagaimanapun juga akan tetap efektif kalau manusia dikomunikasikan melalui manusia dibandingkan gambar dan tulisan. Hal ini menjad pertimbangan bahwa iklan dan PR berjalan saling mendukung dan harus tepat sasaran, sesuai communication objectives awal yang dirumuskan.

Stef_

Wednesday, March 21, 2007

Make It Easy


Albert Einstein seorang ilmuwan yang sangat dikagumi oleh banyak orang pernah berkata "Everything should be made as simple as possible, but not simpler." Entah ada hubungan saudara atau tidak dengan slogan Nike “ just do it “ kami melihat ada kesamaan yang tersirat dari dua kalimat di atas yaitu buatlah segala sesuatunya menjadi gampang, simple, sederhana dan terkesan nikmat.

Dr. Spencer Johnson dalam bukunya Who Moved my Cheesee ? mengatakan dalam hidup ini manusia selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya, harta, jabatan, wanita, kekuasaan dan sebagainya, segala cara kadang kala dilakukan untuk mencapai semua itu walaupun kadang kala hal tersebut sangat tidak manusiawi ataupun melanggar hukum dan semua itu digambarkan sebagai Cheese ( keju ) oleh Dr. Spencer Johnson

Dalam hal tersebut Dr. Spencer menggambarkan ada empat karakter yang berhubungan dengan pencapaian hal di atas yaitu : dua ekor tikus “Sniff” dan “Scurry” serta dua orang manusia kecil yaitu “Hem” dan “Haw” . Pengambaran empat tokoh ini dimaksudkan untuk melihat perjalanan kehidupan mereka dalam sebuah Mazee untuk mendapatkan makanan yang mereka inginkan, yang dalam hal ini adalah keju

Sniff dan Scurry sebagai tikus dalam berjalan di mazee ini dapat kita tebak seperti apa mereka bergerak: cepat, bergegas, dan tidak terlalu banyak berpikir, sedangkan Hem dan Haw sebagai seorang manusia bergerak dengan ragu-ragu, terlalu banyak berpikir dan lambat. Singkat cerita akhirnya mereka semua mendapatkan keju mereka, setiap hari mereka makan dengan tenang dan sesaat semua terlihat tenang. Kira-kira seperti itulah hidup kita sehari-hari, kerja pulang dapat uang dan makan. Namun, semuanya menjadi berubah ketika suatu hari mereka mendapatkan bahwa makanan mereka telah berkurang atau lenyap sama sekali, Hem dan Hew sebagai seorang manusia tentu saja protes terhadap hal ini, mereka mengira pasti ada yang memindahkan makanan mereka atau mencuri makanan mereka, mereka berpikir dan berpikir mengapa semua hal ini bisa terjadi sehingga banyak waktu mereka terbuang. Di sisi lain sebagai seekor tikus Sniff dan Scurry begitu mengetahui makanan mereka hilang atau berkurang mereka langsung bergegas berjalan dan mencari sumber yang baru tanpa banyak berpikir karena memang mereka tidak dikaruniai otak seperti halnya manusia, sehingga mereka lebih sederhana dalam berpikir memecahkan suatu masalah.

Sedikit cerita di atas sangat menggambarkan bagaimana sebuah kompleksitas dan sebuah kesederhanaan berjalan, manusia cenderung sering ingin memikirkan sesuatu masalah dengan rumit dan jelimet tanpa berpikir lebih dahulu bagaimana membuat segala hal terlihat mudah, seorang mahasiswa sering menggunakan kata-kata yang rumit agar terlihat pintar dihadapan orang lain, padahal hal tersebut kadang-kala malah membuat hal yang sebenarnya mudah dan sederhana menjadi rumit dan sulit, hal inilah yang pantas menggambarkan karakter dari Hem Dan Haw, pertanyaannya sekarang adakah orang yang memiliki karekter seperti Sniff dan Scurry, ya jelas ada, dan menurut kami orang seperti ini lebih hebat ratusan kali dari kedua tikus itu karena mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir. Orang karakter tikus ini sering melihat sebuah masalah sebagai suatu yang sederhana sehingga tanpa berpikir terlalu lama mereka dapat merumuskan masalah tersebut dalam sebuah rencana untuk kemudian disusun strategi dalam menghadapinya.

Berpikir kompleks bukanlah suatu yang jelek ataupun tidak efisien jika pada kenyataannya memang harus demikian, namun seringkali kita temui sesuatu yang seharusnya sederhana dibikin-bikin jadi rumit entah itu karena sok pintar, manjang-manjanggi masalah atau pun emang lagi ngak ada kerjaan, karena itu buatlah segala sesuatunya sederhana sehingga kita tidak berat menghadapinya walaupun pada kenyataannya cukup berat, Einstein aja bilang buat segala sesuatunya terlihat gampang terus ngapain kita buat sesuatu jadi rumit? toh kita juga khan yang jadi susah. “Make It Easy” ajalah segala sesuatunya dan kerjakan dengan benar, baik dan terencana OK.

Tuesday, March 20, 2007





It is still era of Customer Satisfaction Stupid!!

Pernah dengar persahaan yang tidak memberikan service pada konsumennya? Perusahaan apa saja, cobalah ingat apakah perusahaan itu tidak memberikan layanan yang dinamakan service. Saya kira kamu semua tidak akan pernah mendengarkan hal tersebut saat ini, baik itu perusahaan yang membidik konsumen yang niche sekalipun ataupun abang tukang bakso yang berjualan saban hari di waktu siang dan sore. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena service adalah sesuatu yang sudah seharusnya ada pada perusahaan, istilah kerennya, service adalah komoditi dalam sebuah perusahaan.

Di harian sebuah surat kabar ada sebuah perusahaan yang mengiklankan produknya, dalam iklan perusahaan tersebut ada statement yang bertuliskan demikian, “kami memberikan service yang baik dan memuaskan”, saya sempat berpikir beberapa saat dan menanyakan pada diri saya sendiri, “service yang baik dan memuaskan?” begitulah semua perusahaan mengiklankan dan mengklaim produknya, kalau tidak siapa yang mau beli. Sebagus apapun Bank BCA, jika ketika anda datang disambut dengan muka ‘naga’ oleh pegawainya, saya berani bertaruh anda akan berpikir tentang menabung di bank yang lain, seandainya di bank lain tersebut menawarkan kualitas dan layanan yang baik.

Service sudah menjadi terminologi marketing yang bertahan cukup lama pada jamannya. Hampir tidak ada perusahaan yang melupakan hal satu ini, karena dari sinilah loyalitas konsumen bisa tercipta dan bertahan sekian lama bagi perusahaan. Michael Traecy dalam bukunya The Disiplin of Market Leader pun memasukan service excellent sebagai salah satu komponen kepemimpinan pasar selain cost leadership dan kepimimpinan dalam teknologi dan inovasi.

Cukupkah service ?, dulu iya, ketika persaingan sudah mulai berperang di dalam benak konsumen, dimana satu perusahaan dengan perusahaan yang lain mulai merumuskan strategi-strategi kreatif dan hebat, di mana pertempuran mulai diarahkan ke dalam pikiran konsumen seperti yang dikatakan Al ries “ perang pemasaran sebenarnya terletak di benak konsumen”, service adalah hal utama yang harus mendukung peperangan ini. Tetapi, ketika sudah terlalu banyak informasi yang datang menghampiri konsumen, ribuan iklan yang berjejal setiap hari, ribuan spanduk, foster terbentang dari kutub utara sampai kutup selatan dan ribuan macam service kreatif dan hebat yang ditawarkan produsen, cukupkah service? Kembali lagi pada tulisan awal, TIDAK. Semua sudah melakukan service dengan baik, service is only commodity now, without service, perjumpaan perusahaan anda dengan ‘kuburan’ akan sangat dekat jaraknya.

Lantas apa selanjutnya, Customer satisfaction adalah selanjutnya. Servive yang dilakukan sebuah perusahaan harus dapat mencapai apa yang dinamakan customer satisfaction. Sebagus apapun sebuah service, dirancanakan sedetail apapun atau menggunakan konsultan pemasaran yang paling terkenal sekalipun tanpa mencapai apa yang dinamakan customer satisfaction hal tersebut adalah sia-sia. Perusahaan anda hanya akan mendapatkan pepesan kosong dengan harga yang sangat mahal tentunya karena service bukanlah hal yang murah.

Bagaimana sebuah perusahaan dapat mencapai apa yang dinamakan customer satisfaction? Banyak sekali tentunya jalan yang ditempuh oleh sebuah perusahaan untuk mencapai hal ini. Starbuck, kedai kopi yang amat sangat fenomenal dan begitu terkenalnya seantero dunia, mengimplementasikan apa yang dinamaka experiental marketing dalam kedai kopinya di seluruh dunia. Ketka anda datang dan duduk di kedai kopinya, menikmati secangkir kopi yang bisa dikatakan cukup mahal, anda akan merasakan suatu suasana yang hangat dan nyaman diiringi alunan musik yang lembut. Tentunya pengalaman tiap orang beda, di sini saya hanya coba menggambarkan suatu strategi yang diciptakan Starbuck untuk menciptakan kepuasan konsumennya melalui apa yang dinamakan experiental marketing.

Terminogi experience saat ini adalah hal yang sangat mengundang perhatian dunia pemasaran. Joseph Pine II dan James Gilmore, dua pakar perintis experiential economy, mengidentifikasi bahwa penawaran yang diberikan oleh perusahaan kepada pelanggannya dapat berupa komoditi (commodities), barang (goods), layanan (services), dan pengalaman (experiences). Di sini, penekanan terhadap experience sangat kentara, di mana dengan penawaran yang melibatkan experience, harga dari sebuah produk akan menjadi priceless. Namun, sekali lagi, berbeda dengan pendapat beberapa ahli pemasaran yang sangat saya hormati, yang menyatakan bahwa konsep kepuasan konsumen tidak relevan lagi dan digantikan kosep customer experience, bagi saya konsep customer experience justru adalah bukti betapa semakin pentingnya apa yang dinamakan customer satisfaction.

Merek terbangun dan menjadi kokoh karena customer satisfaction, perusahaan seperti Microsoft menjadi sedemikian besar karena banyak orang yang puas dengan produknya, BMW menjadi merek pilihan karena konsumen pamakainya puas, BMW bisa menjadi representatif dirinya dan sebagainya. Karena semua itulah, saya berpendapat bahwa customer satisfaction is still good enough saat ini, konsep customer experience adalah tiang yang makin memperkokoh konsep ini, bukan sebagai bangunan baru yang menggantikan bangunan yang dinamakan customer satisfaction.




Wednesday, March 14, 2007

To create a great EM

Dengan begitu massalnya komunikasi yang dilakukan melalui berbagai media massa, para masyarakat sebagai customer dari sebuah produk semakin merasa jenuh dan keterbatasan memorinya semakin membuat sulit mengingat keragaman produk, brand berikut dengan masing-masing pembedanya. Dalam strategi pemasaran sekarang EM dan MPR menjadi menjamur untuk mengantisipasi kejenuhan tersebut. EM yang kita ketahui sebagai Event marketing dan MPR sebagai Marketing Public Relations menjadi ujung tombak dalam berkomunikasi secara langsung dengan customer, karena hubungan yang terjadi adalah interaktif dan mendapatkan feedback langsung dari para customer, baik itu hal yang positif maupun negatif. Cara pengukurannya pun lebih mudah karena langsung terlihat respon yang dihasilkan dari para customer.

Event Marketing yang kian menjamur tidak dilakukan dengan sembarangan karena memakan biaya dan tenaga yang cukup besar, sehingga dalam proses perencanaannya sebisa mungkin matang dan tepat sasaran. Karena result dari sebuah EM akan sangat menentukan kredibilitas brand, hasil yang baik akan dengan cepat mengangkat popularitas brand dan hasil yang buruk akan membuat brand langsung terjun bebas di depan mata para customer.

Berikut di bawah ini beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan dalam perencanaan sebuah EM untuk mendapatkan hasil dan feedback yang maksimal.

1. The publicity
Sebuah event harus mengandung nilai berita/publisitas. Hal ini tidak lain untuk menarik word of mouth dan liputan/penjualan berita yang lebih mudah ke berbagai media. Nilai publisitas ini akan semakin lama menurun pada sebuah konsep event yang diulang, dalam artian kalau dulu sebuah event yang masuk MURI dianggap wahh.. skarang hanya akan mendatangkan ohh… karena semakin lama semakin banyak event yang masuk ke MURI, atau kalau dulu sebuah event dengan hadiah BMW sangat digandrungi orang, sekarang menjadi biasa saja karena banyak event yang melakukan hal tersebut. Nilai publisitas dapat diangkat dari ide konsep yang fresh dan mengundang rasa ingin tahu serta yang terpenting adalah ketertarikan para target pasarnya.

2. Audiensnya adalah the target market

Kembali lagi pada tujuan diadakannya EM adalah pada akhirnya menjual produk atau mengangkat brand di mata konsumennya, maka para audies yang turut serta dalam event tersebut mutlak harus para target marketnya. Audiens ini bisa berkembang, antara lain mengarah pula kepada para pemberi masukan dalam membeli produk kepada para target pasar, atau orang-orang yang dekat dengan target pasar. Seperti contohnya mobil Kijang mengadakan event yang melibatkan seluruh anggota keluarga, sebenarnya target pasar utamanya adalah para ayah, tetapi ibu dan anak-anak adalah para pemberi masukan dalam membuat keputusan membeli mobil.


3. Deep connection between product and event
Adanya hubungan antara produk dan event sangat penting untuk mengangkat positioning dari brand itu sendiri, yang paling simple misalnya Rinso mengadakan lomba bagi para anak-anak untuk bermain di tanah, lumpur, dll. Hal ini tidak lain untuk mengangkat positioning Rinso yang menjamin bahwa para ibu tidak perlu khawatir, karena bajunya akan bersih dicuci kembali dengan Rinso. Event yang tidak mengangkat aktivitas yang berhubungan dengan produk akan menjadi wasting dan tujuan akhirnya akan sulit dicapai.

4. Use the promotion
Dan yang terakhir tapi sama pentingnya dengan keseluruhan proses konsep sebelumnya adalah komunikasi yang tepat sasaran dari event tersebut. Jangan sampai konsep event yang sudah sebegitu baiknya, tidak sampai di telinga para audiensnya. EM tidak akan menjadi sukses seperti yang telah direncanakan.




















4P vs 4C

Banyak pendapat yang bilang bahwa 4P yang adalah Product Price Place Promotion sudah tidak relevan lagi. Hal ini tidak lain dikarenakan adanya perkembangan teknologi yang dulunya ketiga elemen diferensiasi : konten, konteks dan infrastruktur adalah mutlak; sekarang tidak lagi. Ternyata dengan berkembangnya segi informasi, telekomunikasi, transportasi, teknologi, dll; sebuah perusahaan bisa saja fokus pada kontennya saja, konteksnya saja atau infrastrukturnya saja, sehingga dalam hal ini 4P memang sudah tidak relevan lagi.

Jadi apa sebenarnya 4C? 4C dijabarkan sebagai Customer Solution, Cost, Convenience dan Communication. Misalnya saja sebuah perusahaan agen buku impor yang tidak memiliki produk (karena ia mengambil produk dari para produsennya) dan tidak memiliki tempat (karena pembeli tidak datang ke tempatnya). Cara kerjanya mereka hanya mengirimkan list buku impor terbaru ke para pelanggannya dan para pelanggan akan memilih buku mana yang ingin mereka beli, lalu agen buku impor tersebut akan langsung mengirimkan buku yang dipesan ke rumah pelanggan dan pembayaran dilakukan dengan kartu kredit. Benar-benar sebuah customer solution sempurna yang ditawarkan ke para pelanggan, dengan cost yang sangat minim (tidak butuh biaya transportasi, parkir, waktu, dll); kenyamanan yang tinggi karena bahkan dengan segala kemudahan tersebut para pelanggan masih diperbolehkan menghutang kartu kredit); dan yang terakhir adalah komunikasi yang dilakukan adalah dua arah, karena yang memesan secara langsung adalah pelanggannya dengan memilih buku yang ia inginkan, tanpa si agen harus letih menawarkan buku dengan segala kelebihannya tapi sama sekali tidak membuat pelanggan tertarik (seperti yang sering terjadi di toko buku konvensional).

Jadi anda percaya akan keberhasilan 4C? jangan semudah itu, kenali secara mendala bisnis dan kompetensi anda karena sampai kapanpun juga, selama masih ada warung di pinggir jalan, 4P masih akan sangat relevan, mengingat bangsa Indonesia yang cukup lama untuk mengimbangi perkembangan pasar dunia.

Rekayasa itu penting

Percaya nga percaya kita memang tidak bisa selalu jujur dalam berjualan, ya gimana nga.. masyarakat kita sudah terbentuk sedemikian rupa untuk lebih menyukai hal-hal baik yang bersifat semu dibandingkan hal buruk yang nyata. Contoh aja semua orang akan lebih suka hidung mancung dari pesek, jadi jangan salahkan banyak artis kita yang memancungkan hidungnya, itu kan tuntutan job.. lalu setelah mereka melakukan operasi itu dan berusaha untuk jujur balik lagi dicaci maki masyarakat.. jadi terkadang lebih baik bersikap tidak jujur dalam berjualan. Stop dulu jangan langsung jadi mencaci maki saya karena saya menyarankan hal yang buruk, karena saya masih punya contoh banyak dalam hal ini.

Saya akan lebih menjabarkan dalam hal naming, bahwa nama sebuah brand akan sangat mempengaruhi jalannya karir penjualan atau kesuksesan brand itu sendiri. Ok, kemarin saya sempat ngobrol dengan anak-anak kantor saya berkaitan dengan kasus baru yang masuk ke kantor. Ada 1 produk teh mahkota dewa yang menjual produknya dengan nama Mahkota Dewa, sedangkan produk yang sama percis dijual dengan brand lain bermerk Nature Life, and sudah pasti bisa ditebak kan.. kalau orang akan memilih yang berlabel Nature Life, kenapa? Karena pakai bahasa inggris, nga ndesooo… lebih gaya belinya, lebih bisa dipercaya, ya apa sajalah sebabnya, sebaiknya tanya ke diri kita masing-masing. Masalahnya bukan hanya produknya yang sama, tetapi juga penyajian packaging nya sama percis, malahan brand berbahasa inggris itu dijual DUA kali lipat, dan masih tetap dibeli orang.

Ternyata memang naming sangat dibutuhkan karena masyarakat kita, seperti yang sudah saya bilang di atas, lebih suka hal-hal yang berbau barat atau luar negri (walaupun produk tanah air) dibanding yang benar-benar asli Indonesia, mungkin tidak bisa disalahkan juga karena selama 30 tahun lebih produk dalam negri memang kalah jauh dengan produk luar, tetapi lain lagi dengan sekarang yang sudah maju pesat. Dalam kemajuannya yang sungguh pesat ini, produk dalam negri harus tetap berhati-hati dalam langkah-langkah pemasarannya, salah satunya dalam hal naming tadi. Mungkin salah satu kesalahan pemasaran brand Timor yang beridealisme Indonesia sekali itu, karena ia menggunakan nama Timor, di mana yang terbayang di benak masyarakat adalah MOBIL BUATAN INDONESIA, beda dengan merk Polytron yang buatan Indonesia tetapi menggunakan nama brand yang mirip dengan brand Jepang, sehingga yang terbayang yah.. TV BUATAN JEPANG, karena selama ini memang TV bagus selalu buatan Jepang.

Jangankan sebuah produk, untuk memasarkan artis saja harus ada brandnya seperti Jerry Yan yang bernama asli Yan Cheng Xu, biar kayak orang bule pake nama Jerry dan mudah diingat orang selain orang Taiwan/Cina yang terbiasa dengan pembacaan nama 3 suku kata; atau Yuni Shara yang ternyata Wahyu Setyaning Budi atau Inul yang adalah Ainur Rohimah.. ya beda banyak juga gpp asal masih mirip dikit.. yang penting bisa trend, tapi terbukti benar bahwa nama merk yang mereka pakai untuk pemasaran membangung persepsi yang baik, walaupun merekayasa jati diri nama pemberian ortu di kampung.. balik lagi pada idealisme masing-masing, tetapi jangan anggap remeh persepsi yang telah terbentuk di masyarakat, karena kita memang berjualan kepada masyarakat.